Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●

Kertas Tradisional Jepang Ternyata Bisa untuk Menghias Kaca Rumah

Kertas buatan tangan tradisional Jepang "Washi" ternyata bisa dipakai praktis untuk penggunaan penambah kecantikan interior ruangan rumah.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kertas Tradisional Jepang Ternyata Bisa untuk Menghias Kaca Rumah
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Wakana Sugimoto, artis kertas tradisional Jepang, Washi 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Kertas buatan tangan (handmade) tradisional Jepang "Washi" yang telah dilakukan sejak sekitar 1300 tahun lalu, ternyata bisa dipakai praktis untuk penggunaan penambah kecantikan interior ruangan rumah, misalnya hiasan di dinding kaca.

"Washi yang telah jadi bentuk tertentu, disebut washi deco, bisa digunakan untuk berbagai dekorasi di dalam rumah, pada kaca dan sebagainya. Washi tersebut ditempel dengan mudah hanya menggunakan semprotan air biasa saja, maka akan menempel sendiri kuat ada kaca rumah kita membentuk hiasan sendiri," kata Wakana Sugimoto, artis kertas tradisional Jepang "Washi", khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (4/9/2015).

Menurut Sugimoto yang telah sedikitnya 10 tahun bergelut di bidang washi tersebut, kertas tradisional Jepang ini memang sangat pas untuk menghias ruangan rumah. Tak heran orang Amerika dan Eropa banyak membeli washi deco tersebut.

"Satu set washi deco dengan motif seperti bintang salju dijual tiga buah dengan harga 864 yen," kata gadis Jepang ini.

Pada pembuatan motif tersebut, satu panel cetakan biasanya berisi 45 washi deco gambar bintang salju itu. Sedangkan setiap hari para perajin washi bisa memproduksi sekitar 30 panel cetak.

"Dibandingkan penjualan di dalam negeri, saat ini justru sangat banyak, lebih dari 50 persen justru banyak terjual ke luar negeri seperti Amerika dan Eropa," tambah gadis cantik yang sekitar 10 tahun lalu pernah ke Ubud Bali juga dalam rangka mempelajari washi juga dari seorang Jepang yang ada di Bali.

Lebih dari 100 macam motif dibuat para artis washi di Kota Kamino Perfektur Gifu Jepang saat ini dan pemasaran ke luar negeri sangat besar permintaan saat ini khususnya Eropa dan Amerika.

"Kalau Tiongkok atau negara lain masih sangat sedikit. Mungkin karena harganya tidak murah," tambahnya lagi.

Pembuatan washi sejak 7 tahun lalu ternyata telah dilakukan Sugimoto bersama dua temannya dengan teknologi baru, khususnya pada screen pembentukan kertas washi yang mereka kembangkan dan temukan teknologinya tersebut.

Sayang sekali model screen pembentuk washi hasil temuan mereka itu tak boleh difoto.

"Maaf penemuan itu kita lakukan sejak tujuh tahun lalu dan memang tak boleh difoto demi kerahasiaannya. Tetapi bisa dilihat sendiri," tambahnya.

Tribunnews.com yang melihat hasil temuan teknologi barunya itu dengan screeen warna hijau dan tampak menggunakan filter dengan bahan khusus dan serapan tertentu sehingga dapat membentuk washi dengan bentuk motif yang telah ditentukan dengan mudah dan cepat.

"Warna hijau kurang begitu terkait dengan teknologi yang kami ciptakan, bisa saja warna lain," katanya.

Namun yang jelas dengan temuannya tersebut mereka bisa membuat produk dengan lebih mudah, lebih cepat dan lebih berkualitas, hanya menggunakan filter screen khusus.

Jika kita ke Perfektur Gifu direkomendasikan ke Kota Mino yang memang cukup menarik untuk produksi kertas washi tersebut, sekaligus dapat ikut serta latihan membuat washi dengan biaya hanya 500 yen per orang.

Apa Itu Washi?
Washi atau wagami adalah kertas yang dibuat dengan metode tradisional di Jepang. Dibandingkan kertas produksi mesin, serat dalam washi lebih panjang sehingga washi bisa dibuat lebih tipis, namun tahan lama (tidak lekas lusuh atau robek). Oleh karena itu bisa dibuat kerajinan tangan juga seperti produk origami.

Produksi washi sering tidak dapat memenuhi permintaan konsumen sehingga berharga mahal. Di Jepang, washi digunakan dalam berbagai jenis benda kerajinan dan seni seperti origami, shodo dan ukiyo-e.

Washi juga digunakan sebagai hiasan dalam agama Shinto, bahan pembuatan patung Buddha, bahan mebel, alas sashimi dalam kemasan, bahan perlengkapan tidur, bahan pakaian seperti kimono, serta bahan interior rumah dan pelapis pintu dorong. Washi digunakan sebagai bahan uang kertas sehingga uang kertas yen terkenal kuat dan tidak mudah lusuh.

Menurut buku sejarah Jepang Nihon Shoki, biksu Doncho (Dokyo) datang ke Jepang dari Kerajaan Goguryeo pada tahun 610 (tahun ke-18 era Suiko). Donchō merupakan ahli dalam berbagai bidang, termasuk cara pembuatan kertas dan tinta. Di Jepang, Donchō membuat penggilingan kertas dari gilingan batu dengan tenaga penggerak kincir angin. Bahan baku kertas pada saat itu berupa bubur kertas dari serat rami yang dihaluskan dengan gilingan batu.

Pada zaman itu, teknik pembuatan kertas merupakan rahasia negara kekaisaran Tiongkok yang tidak boleh dibocorkan ke luar negeri. Penyebaran kertas ke Timur Tengah yang dibawa orang Arab yang menjadi bekas tawanan perang di Tiongkok baru terjadi 140 tahun sesudah dikenalnya teknik pembuatan kertas di Jepang.

Sebelum dikenal cara pembuatannya, kertas sudah digunakan di Jepang sebagai bahan pembuatan buku. Menurut Kojiki  (buku sejarah Jepang yang tertua dan menurut kata pengantar yang ada di dalamnya dipersembahkan Oho no Asomiyasumaro (O no Yasumaro) pada tahun 712 (tahun ke-5 zaman Wadō), pertama kali buku dibawa masuk ke Jepang oleh sastrawan bernama Wani Kishi dari kerajaan Baekje pada tahun 285 (tahun ke-16 era Kaisar Ojin).

Wani membawa 10 jilid buku Analek Konfusius dan satu jilid buku Seribu Aksara Klasik (Qiānzìwén). Data Kojiki mengenai asal usul buku dianggap tidak akurat. Penulis buku "Seribu Aksara Klasik" lahir 100 tahun setelah era Kaisar Ojin. Buku Analek Konfusius dan Seribu Aksara Klasik dibawa masuk ke Jepang pada abad ke-4 atau abad ke-5.

Tags:
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas