Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kementerian Pertanahan Jepang Sidak Asahi Kasei Terkait Kasus Pemalsuan Data

Petugas Kementerian Pertanahan Jepang melakukan inspeksi mendadak memeriksa data dan dokumen Asahi Kasei Construction Materials Corp.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Dewi Agustina
zoom-in Kementerian Pertanahan Jepang Sidak Asahi Kasei Terkait Kasus Pemalsuan Data
Foto Jiji
Petugas Kementerian Pertanahan Jepang inspeksi mendadak Asahi Kasei, Senin (2/11/2015). 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebanyak 7 orang petugas Kementerian Pertanahan Jepang melakukan inspeksi mendadak memeriksa data dan dokumen Asahi Kasei Construction Materials Corp (AKCM), Senin (2/11/2014) karena diduga kuat melakukan pemalsuan data konstruksi.

Direksi AKCM mengakui telah menemukan 43 data dipalsukan, di antaranya 41 data dipalsukan seorang oknum perusahaan tersebut.

"Kami minta maaf sedalamnya atas kasus ini," kata Direksi AKCM kemarin dalam jumpa pers kepada masyarakat Jepang.

Kementerian Pertanahan Jepang meminta selambatnya 13 November mendatang sebanyak 3.040 data dari berbagai bangunan di Jepang sudah harus dilaporkan hasilnya.

Kasus pemalsuan data konstruksi terbongkar setelah sebuah gedung kondominium di Yokohama terungkap pers Jepang terlihat bangunannya miring sehingga meresahkan penghuninya.

Sedikitnya 10 orang terlibat pemalsuan data konstruksi kondominium tersebut dan diakui para Direksi AKCM kemarin.

Rekomendasi Untuk Anda

"Ada masalah dalam sistem pemeriksaan dan kami benar-benar menyesalkan terjadi hal tersebut," tambah Vice President Masahito Hirai di Tokyo.

Dari 3.040 kasus dicurigai terjadi pemalsuan data, AKCM menyerahkan pembangunan kepada 2.858 kontraktor lain.

Data konstruksi pembangunan yang dipalsukan termasuk Tokyo Metropolitan University, SMA di Komae, sekolah di Perfektur Aomori, sekolah di Hokkaido dan sebagainya.

Pemeriksaan masih terus berlanjut dan Direksi AKCM meminta pers untuk bersabar sampai dengan 13 November mendatang saat melaporkan lengkap semua data kepada pihak Kementerian Pertanahan Jepang.

Seorang mantan pekerja AKCM kepada pers Jepang mengakui memang pekerjaan sangat banyak dan selalu ditekan untuk selalu buru-buru sehingga pekerjaan akhirnya tertinggal. Lalu karena tak ada waktu lalu, akhirnya terpaksa asal buat data saja yang dilaporkan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas