Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Pernikahan Ini Dibatalkan Gara-gara Perempuannya Masih Perawan

Si perempuan mengaku masih perawan hingga delapan tahun usia pernikahan.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Rendy Sadikin
zoom-in Pernikahan Ini Dibatalkan Gara-gara Perempuannya Masih Perawan
Istimewa

TRIBUNNEWS.COM - Sebuah pernikahan di Malta dibatalkan gara-gara si perempuan mengaku masih perawan hingga delapan tahun usia pernikahan.

Perempuan itu telah pergi ke pengadilan untuk membatalkan pernikahan tersebut.

Usut punya usut, seperti dilaporkan Metro.co.uk, si suami tidak tertarik dengan seks.

Masih dari sumber yang sama, pasangan ini dikabarkan hanya berhubungan intim sebulan sekali selama beberapa menit—selalu pada hari Minggu sekitar pukul 22.00—itu pun tanpa melibatkan aktivitas seks.

Setiap hari, perempuan yang tidak mau disebut namanya itu menangis sepanjang malam.

Ia trauma dengan pernikahannya.

Dari catatan pengadilan, pasangan ini menikah pada 2000 setelah menjalani pacaran yang cukup singkat.

Rekomendasi Untuk Anda

Saat masih pacaran, mereka tidak pernah menghabiskan waktu berdua.

Selalu ada orangtua si perempuan di antara mereka.

Setelah “bulan madu” dan kembali ke Malta, si suami tidak ingin tinggal di rumah mereka sendiri dan memilih tinggal bersama ibu dan ayahnya.

Saat pernikahan berusia 7,5 tahun, si perempuan pergi ke pengadilan dan mengaku siap memiliki anak bahkan dengan metode bayi tabung.

Menurut keterangan dokter, sejatinya keduanya sama-sama dalam kondisi subur.

Tapi si pria selalu punya cara untuk menolak berhubungan seks dengan istrinya yang sah itu.

Ia mengaku selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Bukan tanpa usaha, si perempuan terus berusaha menarik perhatian si suami.

Ia mengantar suaminya bekerja dan menjemputnya saat jam pulang kantor; tapi semuanya ternyata tak cukup membuat si suami tertarik.

Suami itu bahkan menyebut itu tindakan biasa dan lumrah dilakukan oleh para istri.

Hingga akhirnya kesabaran si perempuan itu habis.

Ia pergi ke konsultan pernikahan, dan pada titik tertentu ia menyebut suaminya memang membutuhkan bantuan psikiater untuk mengatasi persoalannya.

Selama menjadi sepasang suami-istri, si perempuan mengaku hidup di bawah tekanan.

Suaminya menolak untuk bertanggung jawab terhadapnya, dan bahkan menyuruh ayahnya untuk mengurus perpisahan.

Dan puncaknya, pengadilan akhirnya mengabulkan permohonan si perempuan dan pernikahan mereka akhirnya dibatalkan.

Sumber: Intisari
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas