ISIS Sepanjang 2015: Dari Kekerasan Hingga Islamofobia
Tak hanya korban nyawa, tetapi juga korban secara material
Penulis:
Ruth Vania C
TRIBUNNEWS.COM, JAKARTA - Selama tahun 2015, kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) terpantau tetap menjadi bahan pergunjingan dunia, sebab kelompok itu terus melakukan serangan dan aksi kekerasan yang menelan banyak korban.
Tak hanya korban nyawa, tetapi juga korban secara material, mengingat peperangan yang dilakukan di Irak dan Suriah membuat berjuta warga di sana terpaksa mengungsi keluar dari kampung halamannya untuk menyelamatkan diri dan mengubah nasib hidup.
Menurut penelusuran Tribunnews, tahun 2015 ini dibuka oleh bertubinya berita terkait kekerasan dan kekejaman yang terjadi di wilayah teritorial ISIS, yaitu Irak dan Suriah, dan sekitarnya, lalu ditutup oleh gencarnya insiden serangan yang menelan korban nyawa di luar Timur Tengah, bahkan hingga di negara-negara Barat.
Sebuah ironi pun seperti terjadi, mengingat negara-negara Barat yang awalnya membuka diri terhadap pengungsi Timur Tengah yang membanjiri Eropa, kemudian berakhir meragukan dan malah menolak para pengungsi, lantaran keberadaan teroris dikhawatirkan ada di antara rombongan imigran yang menjadi sebuah krisis bagi Uni Eropa itu.
Rasa kemanusiaan yang awalnya menyambut pengungsi Timur Tengah yang mayoritas muslim itu kemudian seperti diakhiri oleh rasa kebencian dan ketidakpercayaan, yang lalu berujung pada Islamofobia.
Sasar non-muslim dan sesama muslim
Mengawali 2015, ISIS dikabarkan terus terlibat dalam aksi-aksi eksekusi yang dikatakan sadis dan mengerikan, yang menjadikan baik kaum non-muslim dan muslim menjadi korbannya.
Satu contohnya adalah pengeksekusian 21 umat Kristen Koptik Mesir yang diculik oleh militan ISIS, yang kemudian berujung pada kemarahan masyarakat Mesir yang menuntut balas dendam.
Pengeksekusian itu diperlihatkan dalam sebuah video yang menampilkan pemenggalan 21 jemaat Kristen Koptik itu, yang kemudian beredar di dunia maya.
Aksi kejam itu lalu membuat Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi, naik pitam.
Atas itu, Mesir melancarkan serangan udara menyasar ISIS pada 26 Februari 2015.
"Kami menegaskan bahwa pembalasan atas darah rakyat Mesir yang telah tumpah serta atas perbuatan para penjahat dan pembunuh itu adalah kewajiban yang harus kita lakukan," demikian pernyataan kemiliteran Mesir, dikutip Asia One.
Ternyata tak hanya kaum non-muslim yang menjadi sasaran ISIS.
Pada 22 Mei 2015, ISIS mengklaim militannya melakukan aksi bom bunuh diri di sebuah masjid Syiah di Al-Quyadh, Arab Saudi, yang menewaskan 30 jemaah yang tengah salat Jumat di sana.
Aksi itu menjadi kali pertama muslim Syiah di Arab Saudi dijadikan sasaran penyerangan sejak November 2014.
Di bulan yang sama, sebelumnya kelompok tersebut pada 13 Mei 2015 juga mengatakan telah melakukan serangan penembakan yang menyasar sebuah bis yang mengangkut sekitar 60 muslim Syiah di Karachi, Pakistan, menewaskan setidaknya 45 orang.
Penyerangan di masjid Syiah juga terjadi di Kuwait pada 26 Juni 2015 yang sama-sama terjadi saat salat Jumat. Aksi bom bunuh diri yang kemudian diklaim oleh ISIS itu dilaporkan menewaskan 27 orang dan mencederai setidaknya 227 orang.
Ramadan penuh kebrutalan
Bahkan hingga di bulan Ramadan pun ISIS layaknya tak pernah 'berpuasa' untuk melakukan aksi kekerasan.
Meski ibadah puasa memang dianggap penting untuk ditunaikan umat Islam di bulan suci itu, respon dan tindakan ISIS dalam memberi sanksi terhadap pelanggaran berpuasa dinilai kasar dan brutal.
Seperti yang diberitakan pada 23 Juni 2015, dua bocah laki-laki di Suriah dihukum gantung oleh militan ISIS lantaran dituduh kedapatan makan di siang hari, saat warga lainnya berpuasa.
Lengan kedua bocah itu diikat dan digantung selama beberapa jam di sebuah tiang kayu.
Selain itu, kelompok itu pun dikatakan melakukan aksi pemenggalan terhadap dua wanita di Suriah, yang dinyatakan oleh Observatorium HAM Suriah pada 30 Juni 2015 sebagai kali pertama bagi ISIS mengeksekusi wanita melalui cara dipenggal.
Sebelumnya, ISIS biasanya mengeksekusi wanita melalui cara dirajam sampai meninggal dunia, seperti yang pernah dilakukan untuk hukuman atas tuduhan zina.
Peristiwa pemenggalan yang terjadi pada 28 Juni 2015 itu kali ini atas tuduhan praktek perdukunan dan sihir.
Tampung pengungsi
Kekejian, kebrutalan, dan peperangan yang kerap terjadi di Irak, Suriah, dan sekitarnya itu kemudian membuat berjuta warga setempat mengungsi dan meninggalkan negaranya untuk mengadu nasib di negara lain.
Tempat yang menjadi tujuan adalah Eropa, di mana menurut para pencari suaka itu hidup di sana lebih terjamin bagi diri dan keluarganya.
Itulah yang kemudian membuat Eropa dibanjiri oleh imigran, yang masuk baik secara legal maupun ilegal, sampai Uni Eropa kewalahan menangani arus masuk imigran yang membludak itu.
Selama September 2015, sejumlah negara Barat mulai beramai-ramai menyatakan kesediaannya menampung pengungsi.
Perdana Menteri Inggris, David Cameron, mengatakan pada 8 September 2015 bahwa pemerintah Inggris akan menampung sebanyak 20.000 orang imigran asal Suriah.
Di hari yang sama, warga Jerman menyambut pengungsi Suriah sambil bertepuk tangan dan membagikan pizza.
Kanselir Jerman Angela Merkel mengatakan Jerman akan menampung sekitar 800.000 imigran hingga akhir 2015.
Pada 9 September 2015, Australia pun turut sepakat menyambut 12.000 pengungsi dari Timur Tengah.
Diumumkan oleh mantan Perdana Menteri Australia Tony Abbott, negara itu berkomitmen menempatkan pengungsi secara permanen di Australia dan menekankan tidak akan ada perbedaan perlakuan terhadap pengungsi Nasrani dan Muslim, merespon beredarnya sentimen anti-Muslim.
Komitmen itu kemudian disambut baik oleh agen penanganan pengungsi PBB, UNHCR, yang saat itu mengaku mulai kesulitan menangani pengungsi.
Gedung Putih juga mengumumkan pada 10 September 2015 bahwa Presiden AS Barack Obama telah bersiap untuk menerima 10.000 pengungsi Suriah di AS pada 2016.
Beberapa pihak sempat menilai bahwa jumlah yang diterima kurang banyak, namun selama ini AS memang sulit memperbesar kuota imigran, sebab pengurusan dokumennya saja memakan waktu 18 hingga 24 bulan.
Belum lagi pertimbangan keamanan negara untuk membawa masuk imigran dari Timur Tengah, meski rasa simpatik terhadap pengungsi sudah mulai tumbuh di hati masyarakat AS.
Bahkan, sejumlah tokoh penting ikut pula menyuarakan dukungan agar individu atau komunitas tertentu turut menyambut pengungsi.
Seperti Paus Fransiskus yang pada 6 September 2015 mengimbau agar semua institusi Katolik di Eropa paling tidak menampung satu keluarga pengungsi.
Gencar insiden serangan
Saat negara-negara Barat membuka pintunya untuk menyambut pengungsi, insiden serangan mulai gencar terjadi di skala yang lebih besar.
Dimulai pada 31 Oktober 2015, ketika pesawat komersil milik maskapai Rusia, Kogalymavia, jatuh di area pegunungan Hassana, Sinai, Mesir, menewaskan seisi pesawat itu.
Sebelumnya, pesawat itu dinyatakan menghilang saat terbang dari daerah wisata Sharm el-Shekih, Mesir, menuju St. Petersburg, Rusia.
Airbus A-321 yang membawa 224 orang itu hilang kontak dengan menara pengawas Siprus, Yunani, dan tak nampak keberadaannya di layar radar.
Dipastikan oleh pemerintah Rusia bahwa penyebab jatuhnya pesawat itu adalah bom dari aksi teroris, didukung oleh bukti bekas ledakan yang ditemukan pada puing-puing pesawat.
Sebelumnya, sempat ada dugaan bahwa ISIS yang meledakkan pesawat itu, yang kemudian membuat sejumlah negara waswas dan menghentikan penerbangan komersilnya melintas Sinai serta penerbangan dari Sharm el-Shekih.
Kelompok itu kemudian memang mengklaim telah menyerang pesawat itu.
Serangan berlanjut ke aksi penembakan dan bom bunuh diri di enam lokasi di penjuru Prancis pada 13 November 2015.
Insiden itu terjadi secara bersamaan di gedung teater Le Bataclan, stadion Stade de France, dan sejumlah jalanan serta restoran di Paris.
Korban tewas akibat insiden itu secara keseluruhan berjumlah 129 orang dan sebagian besar dari jumlah itu adalah korban tewas di Le Bataclan.
Nyawa Presiden Prancis Francois Hollande pun sempat terancam, lantaran saat itu ia sedang berada di Stade de France menyaksikan pertandingan sepakbola antara Perancis dan Jerman.
Kelompok ISIS kemudian melalui sebuah pernyataan tertulis resmi mengklaim serangan teror itu yang intinya menyatakan Prancis memang dijadikan sebagai "target utama" karena "telah berani menyinggung Nabi, mengumbar soal akan membasmi Islam di Prancis, dan menyerang pejihad muslim dengan pesawat-pesawat (tempur Prancis)".
Serangan teror yang jatuh pada hari Jumat itu lalu dikatakan seorang peneliti terorisme, Ridlwan Habib, telah memberi makna baru akan legenda 'Friday the 13th'.
Legenda barat yang juga dikenal dengan sebutan 'Jumat Hitam' atau 'Black Friday' itu dimaknai sebagai hari kemalangan dan penuh tragedi, yang biasa jatuh pada Jumat tanggal 13.
Insiden menelan nyawa kembali terjadi pada 2 Desember 2015, di mana setidaknya 14 orang tewas akibat aksi penembakan di San Bernardino, California, AS.
Penembakan dilakukan oleh sepasang suami istri yang menyerbu ke dalam sebuah gedung LSM untuk kaum difabel, Inland Regional Centre yang saat itu sedang menggelar sebuah acara.
Keduanya lalu melarikan diri dan masuk ke sebuah mobil SUV hitam, yang kemudian ditembaki polisi dan menewaskan pasutri yang diidentifikasi bernama Syed Rizwan Farook dan Tashfeen Malik itu.
Setelah diketahui satu dari pasangan itu pernah menyuarakan dukungan pada ISIS, badan intelijen AS (FBI) menyebut insiden penembakan itu sebagai aksi terorisme.
Tashfeen dikatakan pernah mengunggah postingan di Facebook yang mengungkapkan dukungannya terhadap ISIS, diunggah beberapa menit sebelum serangan dilakukan.
"Sejauh ini, hasil investigasi mengindikasikan bahwa para pelaku teradikalisasi dan berpotensi terinspirasi oleh kelompok teroris asing," sebut direktur FBI, James B. Comey, dikutip New York Times.
Kekerasan, kebencian, dan Islamofobia
Banyaknya insiden yang diklaim ISIS lalu memicu komentar-komentar soal teroris, yang kemudian kerap dihubungkan dengan pengungsi yang membanjiri Eropa dan muslim secara umum.
Seperti yang diutarakan kandidat capres partai Republik AS Donald Trump, yang mendesak agar muslim dilarang masuk AS dalam pidato kampanyenya di South Carolina, AS, 7 Desember 2015.
Ketika mengomentari soal insiden penembakan di California, ia menyebut bahwa Islam adalah kepercayaan yang berakar pada "kekerasan dan kebencian".
Menurutnya, larangan itu harus diberlakukan sampai AS bisa memahami ancaman dan permasalahan yang ditimbulkan oleh serangan-serangan dari "orang-orang yang hanya percaya jihad".
Komentar tersebut kemudian mendapat banyak kritik, seperti dari publik, pengamat, dan kandidat capres AS lainnya.
Bahkan, pernyataan yang kemudian menjadi viral itu membuat Gedung Putih marah dan menyebut Donald tak pantas menjadi presiden.
"Sayang sekali jika seorang kandidat capres AS memiliki pandangan seperti itu. Itu bukanlah yang warga AS mau. Donald tidak tahu seberapa besar upaya komunitas muslim melawan kekerasan," kata Sekjen Dewan Organisasi Muslim AS Oussama Jammal, merespon pernyataan Donald itu.
Selain itu, komentar Donald dan serangan di California kemudian dikatakan menimbulkan rasa takut di kalangan muslim AS.
Menurut seorang direktur Islamic Center Jersey City, Ahmed Shedeed, larangan muslim masuk AS itu hanya memicu semakin banyaknya tindak kekerasan dan kebencian, yang berkaitan dengan Islamofobia.
Kekerasan dan kebencian itulah yang menurutnya membuat muslim AS semakin terpuruk dalam ketakutan.
Usai tragedi Paris dan insiden penembakan di California, dikatakan semakin banyak aksi kebencian yang dialami warga Muslim AS. Ahmed menyebutkan semakin banyak wanita berjilbab yang diludahi, hingga ada insiden seorang sopir taksi muslim ditembak.
"Kami sangat menderita, kami ketakutan, kami pun bersedih. Kami sangat takut terhadap orang-orang seperti (Donald). Jika ia aktif saat insiden 9/11 terjadi dan menyuarakan hal yang sama, saya yakin pasti banyak muslim yang terluka akan hal itu," ucap Ahmed.