Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pengakuan Pernikahan Sesama Jenis Bisa Menghilangkan Identitas Jepang

Perkawinan sejenis yang disahkan dengan sertifikat Kota Shibuya Tokyo justru berbahaya dan akan dapat menghilangkan identitas diri Jepang.

Pengakuan Pernikahan Sesama Jenis Bisa Menghilangkan Identitas Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Junji Koizumi, anggota parlemen Kota Nerima di Tokyo 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Perkawinan sejenis yang disahkan dengan sertifikat Kota Shibuya Tokyo baru-baru ini justru berbahaya akan dapat menghilangkan identitas diri Jepang. Oleh karena itu sertifikat perkawinan sejenis harus ditentang habis.

"Terciptanya peraturan yang memungkinkan Kota Shibuya mengeluarkan sertifikat kawin satu jenis melalui proses yang curang, tidak benar," kata Junji Koizumi, anggota parlemen Kota Nerima di Tokyo khusus kepada Tribunnews.com, Jumat (8/1/2016).

Menurut anggota parlemen dari partai liberal (LDP) tersebut, seandainya menikah pun mereka tak akan bisa punya anak dan ini bertentangan dengan kodrat manusia.

Bahkan juga bertentangan dengan UUD Jepang di mana perkawinan haruslah laki-laki dan perempuan serta mendidik maupun membesarkan anaknya dengan baik agar tercipta bangsa dan negara yang baik pula di masa depan.

"Coba bayangkan kalau misalnya yang wanita katakanlah mendapat suntikan donor sperma dari luar, seperti yang terjadi di Swedia, kemudian melahirkan anaknya. Kan tidak jelas anak tersebut. Bagaimana membesarkan anak oleh ibu saja tidak mungkin. Anak akan bingung dan kehilangan identitas pula. Siapa ayahnya sejak lahir tidak tahu. Kasih sayang ayah juga tidak ada. Kan jadi kacau semua kehidupan anak tersebut," katanya lagi.

Peraturan yang memperbolehkan penerbitan sertifikat pernikahan sesama jenis di Shibuya itu pun juga masih dibahas oleh Kementerian Hukum Jepang yang juga menentang peraturan baru itu serta berusaha untuk menghapusnya.

"Masyarakat sendiri termasuk pribadi masyarakat Shibuya juga bisa mengajukan tuntutan kepada pemerintah agar aturan tersebut dibatalkan dan akan dibahas serta dipertimbangkan maupun diputuskan di pengadilan Jepang apabila ada yang mengajukannya. Yang penting masyarakat sendiri harus sadar ada yang tidak benar itu," jelasnya.

Setelah Koizumi menentang perkawinan sesama jenis, telepon masuk ke kantornya cukup banyak.

"Tapi kebanyakan mendukung saya. Ada dua orang menentang dan tujuh orang mendukung pendapat saya katanya Gambatte ne," ujar Koizumi.

Koizumi juga mengakui di Jepang ada suara dan hati yang berbeda.

"Yang menyuarakan lantang mendukung perkawinan sesama jenis, coba saja kalau hal itu terjadi di keluarganya kepada anaknya, apakah mendukungnya juga?" tanya Koizumi.

Dengan kata lain Koizumi meragukan hasil survei yang menyimpulkan lebih banyak pendukung pernikahan sesama jenis ketimbang yang menolaknya.

Di Nerimaku Tokyo , tempat pemilihannya, diakui sangat sedikit orang yang mendukung pernikahan sesama jenis.

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas