Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Tato dan Yakuza Mulai Ditinggalkan Masyarakat Jepang

Di Jepang, orang-orang berusaha menghilangkan tato di badan, karena tak mau disebut seorang yakuza.

Tato dan Yakuza Mulai Ditinggalkan Masyarakat Jepang
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Mantan Yakuza Jepang dengan tato di depan dan di belakang tubuhnya. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Tato atau irezumi bercitra mafia Jepang (yakuza). Anehnya semakin banyak anak muda Indonesia mentato dirinya.

Padahal di Jepang malah sebaliknya, berusaha menghilangkan tato di badan, karena tak mau disebut seorang yakuza.

Pada saat Wali Kota Osaka, Toru hashimoto, tahun 2015 masih berkuasa, larangan keras bagi karyawan Pemda Osaka bertato. Akibatnya banyak orang bertato berusaha menghapus tatonya karena larangan tersebut.

Belum lagi larangan masuk bagi para pria bertato di tempat pemandian umum, semakin banyak menuliskan pengumuman larangan di pintu masuk.

Sasarannya, agar yakuza tidak masuk ke tempat pemandian umum. Apabila masuk, orang awam akan kabur ke luar menghindarinya. Mengapa? Sebab citra yakuza adalah pembuat onar atau keributan.

Di Jepang tato mulai populer dimulai sejak zaman Yayoi (300 tahun sebelum Masehi sampai dengan 300 tahun setelah Masehi).

Kata tato berasal dari bahasa tahiti yaitu 'tatu', yang berarti 'menandakan sesuatu'.

Tato atau rajah menggunakan alat dan jarum untuk membuat tanda atau gambar dengan memasukkan pigmen/tinta ke dalam kulit manusia.

Sebenarnya sudah dikenal masyarakat Mesir kuno sejak 3.000 tahun sebelum Masehi. Budaya tato menyebar ke berbagai negara termasuk ke suku Dayak di Indonesia.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas