Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

15 Orang Indonesia di Jepang Selesai Masa Magangnya

Sebanyak 15 pemagang selesai masa berlatihnya selama setahun

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in 15 Orang Indonesia di Jepang Selesai Masa Magangnya
Foto Richard Susilo
Lima belas pemagang Indonesia berfoto dengan para orangtua angkatnya dan penerjemah serta pejabat KBRI Tokyo sore ini (24/2/2016) seusai upacara penutupan masa magang mereka selama setahun di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebanyak lima belas pemagang Indonesia terutama di bidang pertanian selesai masa magangnya dan besok pulang ke tanah air.

Rencana pihak kementerian pertanian Indonesia besok (25/2/2016) akan menjemput di bandara Soekarno Hatta.

"Saat ini baru 15 pemagang, tahun depan kita datangkan 18 pemagang ke Jepang di bidang pertanian," papar Dadeng Gunawan Atase Pertanian KBRI di Tokyo Jepang khusus kepada Tribunnews.com sore ini, Rabu (24/2/2016).

Sebanyak 15 pemagang selesai masa berlatihnya selama setahun sejak April 2014 di berbagai tempat di Jepang.

Di sini mereka dikumpulkan oleh The Japan Agricultural Exchange Council yang lalu dipecah, dibagi ke beberapa pemilik sawah pertanian Jepang, untuk berlatih di sana.

Salah satunya di sawah milik Masaaki Ito dengan pemagang Indonesia, Abdul Rohmat (25).

Rekomendasi Untuk Anda

"Saya sejak 2004 sudah menerima satu pemagang dari Indonesia. Berarti sudah 12 orang Indonesia berlatih di tempat saya," papar Ito khusus kepada Tribunnews.com sore ini (24/2/2016).

Dari 12 pemagang tersebut, ada pula pemagang dari Thailand yang bekerja di tempatnya juga, diakuinya macam-macam karakter pemuda Indonesia yang berlatih di persawahan dan perkebunan keruknya yang jumlah luasnya sekitar 12 hektar tersebut.

"Ada yang malas dan ada pula yang rajin. Tapi kebanyakan rajin. Dari 12 orang ya 2 orang malas, kira-kira begitu,"katanya.

Meskipun demikian Ito mengerti situasi tersebut karena mereka mungkin berasal dari situasi lingkungan kurang mampu yang tidak terbiasa kerja keras seperti di Jepang.

Abdul sendiri menceritakan kerjanya dimulai sejak jam 7.30 pagi sampai jam 5 sore.

"Hanya pada saat memilah bibit saja yang cukup lama, terkadang sampai jam 8 malam. Tapi itu jarang dilakukan," papar Abdul.

Hari Minggu adalah hari libur baginya. "Orangtua" angkatnya, Ito, seringkali mengajaknya jalan-jalan sehingga banyak pengalaman diperolehnya selama di Jepang.

"Saya senang sekali di Jepang dan apalagi orangtua saya itu baik sekali dia, sangat baik mungkin ya, sangat memperhatikan saya," ujarnya.

Ito bersama kakaknya mengelola sawah dan perkebunan jeruk di perfektur Wakayama yang sangat manis dan terkenal di Jepang.

Sebelumnya Ito pernah pula berlatih di bidang pertanian beberapa bulan di Arizona Amerika Serikat untuk apel dan jeruk serta hal-hal terkait bidang pertanian.

"Menerima pemagang dari Indonesia senang sekali karena kebanyakan mereka memang rajin, pekerja keras, mau belajar dari kami," ujarnya.

Abdul pun membenarkan hal itu, "Banyak yang bisa saya pelajari dari Jepang, selain waktu yang tepat dan ini enak sekali kerjanya dengan waktu tepat dan disiplin yang baik di Indonesia, lain dengan di Indonesia ya," katanya.

Setelah pulang ke Indonesia Abdul pun berharap bisa mengubah jam karet yang ada di lingkungannya sehingga nantinya persawahannya bisa menghasilkan padi yang baik berkat kerja yang tepat waktu serta disiplin seperti yang dilakukannya di Jepang ini, harapnya lagi.

Mengapa beras Jepang bisa bagus? Menurut Abdul karena sejak mulai bibir padi saja sudah diseleksi dengan ketat, lalu penanamannya di sawah juga menggunakan mesin dan dalam waktu teraktur juga diberikan pupuk yang baik, sehingga hasilnya menjadikan padi yang sangat baik dan beras yang enak dikukus menjadi nasi yang enak dimakan.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas