Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

NAJAT Minta Jepang Hentikan Produksi Senjata Api

NAJAT mengimbau para pemegang saham MHI menyuarakan stop produksi dan stop perdagangan persenjataan yang dilakukan perusahaan tersebut.

NAJAT Minta Jepang Hentikan Produksi Senjata Api
NAJAT
Network Against Japan Arms Trade (NAJAT) sedang berunjuk rasa di depan kantor sebuah perusahaan swasta di Jepang. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Saat Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) Mitsubishi Heavy Industries (MHI) 26 Juni 2016, para pemegang saham dibagikan pamflet dari Network Against Japan Arms Trade (NAJAT).

Pamflet tersebut mengimbau para pemegang saham MHI menyuarakan stop produksi dan stop perdagangan persenjataan yang dilakukan perusahaan tersebut.

"Kita tidak perlu persenjataan agar dunia aman dan damai. Oleh karena itu kita mau Jepang menghentikan produksi senjata api dan menghentikan menjual persenjataan ke luar negeri atau perdagangan persenjataan lainnya," kata Koji Sugihara, salah saorang pimpinan NAJAT khusus kepada Tribunnews.com, Rabu (13/7/2016).

Dalam laporan kegiatan MHI tertulis, MHI memang sedang mengembangkan persenjataan baru, membuat dan memproduksi berbagai persenjataan termasuk peralatan pesawat jet F35, peralatan Aegis, dan juga peluru kendali.

"Kita mau semua itu dihentikan dan juga tidak diperdagangkan apalagi antar negara, termasuk pengembangan bersama dengan negara lain," lanjutnya.

Dalam setiap unjuk rasanya di berbagai tempat, NAJAT seringkali membawa spanduk dengan tulisan "Buki Made in Japan Iranai" (tak perlu persenjataan buatan Jepang). Tertulis juga "Jangan jual-beli persenjataan".

NAJAT juga bekerja sama dengan organisasi Australia, The Australian Anti-Bases Campaign Coalition yang memprotes kedatangan kapal selam militer Jepang 15 Maret 2016 di Australia.

"Kita menentang kedatangan kapal selam Jepang termasuk militer Australia yang malah meningkatkan anggaran militernya. Bukan kapal militer Jepang tetapi dari Jerman dan Perancis juga kami tentang," kata Denis Doherty dari koalisi tersebut di Sydney.

Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas