Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
DOWNLOAD
Tribun

Pengakuan Artis Porno Jepang Dicuci Otaknya Dipaksa Bermain

Seorang petinggi kabinet Jepang pun sempat mengomentari kasus tersebut.

Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Pengakuan Artis Porno Jepang Dicuci Otaknya Dipaksa Bermain
Foto Richard Susilo
Saku Kasai (30) sedang menangis saat membuka kasusnya, bercerita apa adanya mengenai dirinya kepada pers. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Tokyo

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Pengakuan artis pemain film porno Jepang (JAV) Saku Kasai (30) baru-baru ini sangat mengguncang warga Jepang.

Ternyata 8 bulan dia dicuci otaknya oleh seorang bos produser film JAV dan kini berencana menuntutnya ke pengadilan.

"Saya baru sadar kini telah dipermainkan lalu dilempar, ditipu, diancam untuk membayar denda besar bila tak mau main film lagi, diperas habis-habisan," ujar Kasai kepada pers belum lama ini sambil menangis mengutarakan kisahnya.

Bos produser JAV tersebut akhirnya ditangkap polisi Juni 2016 dan Kasai pun mengajukan ke pengadilan kasusnya tersebut yang dianggapnya telah dicuci otaknya oleh bos tersebut selama delapan bulan sehingga dia terperangkap ke dalam dunia JAV.

Seorang petinggi kabinet Jepang pun sempat mengomentari kasus tersebut.

"Pelaku terpaksa dijerumuskan jadi pemain film AV. Namun pemain AV lain sebenarnya juga harus berusaha untuk memahami situasi yang sebenarnya tentang kekerasan terhadap perempuan yang membutuhkan pemberantasan dan pencegahan."

Berita Rekomendasi

Seorang aktivis hak asasi manusia internasional, Sekjen NGO Human Right Now, Kazuko Ito juga mengomentari.

"Perbudakan utang dan kekerasan serius terhadap perempuan saat ini tampaknya cukup mengejutkan, Mungkin kita tidak pernah bermimpi bahwa ada hal seperti itu sampai saat ini. Masalah sosial ini harus benar-benar diangkat ke permukaan secara serius," ujarnya.

Sementara mantan artis AV Jepang, Mariko Kawana untuk meng konsolidasikan industri AV ini berusaha merangkul para artis AV untuk bersatu supaya kuat.

"Kita berusaha menjauhkan mereka para artis AV dari pemerasan, dari kekerasan terhadap artis AV agar para aris bisa tetap menjaga feminimismenya sekaligus tetap mengangkat industri ini dengan baik dan sehat," ujarnya.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
×

Ads you may like.

© 2025 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas