Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Pilpres Amerika Serikat

Trump Jadi Presiden AS "Era Negara Palestina Pun Berakhir"

Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat menciptakan kesempatan baru bagi Israel untuk meninggalkan komitmen pendirian Palestina.

Trump Jadi Presiden AS
People
Foto: (kiri ke kanan) Eric Trump, Donald Trump, Ivanka Trump, dan Donald Trump Junior. (People) 

TRIBUNNEWS.COM, YERUSALEM - Terpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat menciptakan kesempatan baru bagi Israel untuk meninggalkan komitmen pendirian Negara Palestina.

Hal itu kembali ditegaskan Naftali Bennett, Menteri senior Israel, di Yerusalem, Selasa WIB (15/11/2016) seperti dikutip kantor berita AP.

Pernyataan Naftali Bennett ini merefleksikan sentimen kelompok nasionalis sayap kanan Israel yang meyakini Trump menjadi tanda terbukannya era baru bagi Israel dan AS.

Kedua negara memang sejak lama mempunyai hubungan yang erat.

Namun tensi kedua negara kerap meninggi saat cara pandang Presiden Barack Obama dan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu sering berbenturan.

Minggu lalu, Menteri Pendidikan Israel itu telah mengungkapkan pandangannya atas terpilihnya perusahaan kaya raya AS sebagai Presiden.

Dia lantas memprediksi bahwa hubungan spesial antara AS dan Israel akan tumbuh semakin kuat.

Selain itu, kata Bennett, tak ada satu pun platform kampanye Partai Republik yang menyebut Negara Palestina.

"Era untuk negara Palestina sudah berakhir," kata dia kala itu.

Hari ini, saat berbicara kepada sejumlah wartawan asing, Bennett terlihat lebih berhati-hati dari sebelumnya.

Dia mengutip perintah PM Netanyahu agar anggota kabinetnya tidak berbicara tentang pemilu AS di depan umum.

Namun, Bennett mengaku telah mendorong pemerintah Israel untuk memikirkan ulang soal komitmen kemerdekaan bagi Bangsa Palestina.

"Kombinasi perubahan yang terjadi di AS, Eropa dan sejumlah wilayah lain, mendatangkan kesempatan yang unik bagi Israel untuk memikirkan ulang segalanya," ungkap dia.

"Bukan menjadi rahasia, bahwa gagasan mendirikan Negara Palestina di jantung Israel adalah kesalahan yang mendalam," kata dia.

"Saya percaya bahwa kita harus membawa ide-ide baru, alternatif, dan bukan pendekatan Negara Palestina," tegas dia.

Ikuti kami di
Editor: Hasanudin Aco
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas