Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●
BBC

Myanmar dituduh lakukan 'pembersihan etnik' Rohingya

Seorang pejabat senior Badan Pengungsi PBB menuduh Myanmar berusaha mengenyahkan kelompok minoritas Muslim Rohingya melalui pembersihan etnik.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Pengungsi Rohingya

Para pengungsi Rohingya menempati sebuah penampungan tak resmi di Bangladesh setelah menyelamatkan diri dari Negara Bagian Rakhine, Myanmar.

Kepala Pusat Pengungsi PBB di Bangladesh tenggara, John McKissick, mengatakan Myanmar berusaha mengenyahkan kelompok minoritas Muslim Rohingya melalui pembersihan etnik.

Ia mengatakan hal itu setelah ribuan orang Rohingya yang beragama Islam melarikan diri dari Myanmar ke negara tetangga Bangladesh setelah terjadi kerusuhan antara pasukan keamanan dan kelompok militan.

"Setelah pembunuhan sembilan penjaga perbatasan pada tanggal 9 Oktober lalu, militer dan polisi penjaga perbatasan terlibat dalam penghukuman kolektif terhadap minoritas Rohingya.

"Membunuh laki-laki, menembak mereka, membunuh anak-anak, memerkosa perempuan, membakar dan menjarah rumah mereka, memaksa orang-orang tersebut untuk menyeberang sungai," kata McKissick yang bertugas di kota perbatasan Bangladesh, Cox's Bazar.

Pemerintah Myanmar menepis tudingan itu.

"Ia seharusnya berbicara atas dasar fakta nyata dan kuat di lapangan," kata juru bicara presiden Zaw Htay.

Ditambahkannya McKissick seharusnya menjaga profesionalismenya dan etika sebagai pejabat PBB karena "pernyataan-pernyataannya hanyalah tuduhan".

Warga Myanmar

Seorang warga Myanmar ditahan di Bangladesh atas tuduhan melakukan mata-mata untuk pemerintah Myanmar.

Rekomendasi Untuk Anda

Pada Rabu (23/11) Kementerian Luar Negeri Bangladesh memanggil duta besar Myanmar untuk menyampaikan kekhawatiran pemerintah terhadap operasi militer Myanmar belakangan ini.

Bangladesh juga meminta Myanmar mengizinkan mereka pulang tanpa rasa takut dan menjamin keselamatan mereka.

Rohingya merupakan etnik minoritas yang tidak diterima sebagai warga negara oleh Myanmar.

Sumber: BBC Indonesia
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas