Tribun

Cemaskan Agresi Rusia, Swedia Berlakukan Kembali Wajib Militer

Sebagai negara non-NATO, selama dua abad terakhir Swedia tak pernah terlibat konflik bersenjata di wilayahnya.

Editor: Malvyandie Haryadi
Cemaskan Agresi Rusia, Swedia Berlakukan Kembali Wajib Militer
TT NEWS AGENCY/REUTERS/TELEGRAPH
Personel dari resimen pasukan lapis baja Skaraborg tengah berlatih di Pulau Gotland, wilayah Swedia yang terletak di Teluk Finlandia dan menghadap langsung negara-negara Baltik. 

TRIBUNNEWS.COM, STOCKHOLM - Pemerintah Swedia yang berhaluan kiri-tengah, Kamis (2/3/2017), kembali memberlakukan wajib militer setelah meninggalkannya selama tujuh tahun.

Keputusan ini diambil untuk merespon kondisi global terutama perilaku congkak Rusia di kawasan Laut Baltik.

"Kami dalam konteks di mana Rusia menganeksasi Crimea dan mereka kini lebih banyak melakukan latihan militer di wilayah sekitar kami," kata menteri pertahanan Swedia Peter Hultqvis.

Sejak 2010, Swedia memiliki tentara profesional yang diisi warga yang sukarela mendaftarkan diri menjadi tentara.

"Kami melihat unit-unit militer kami tak bisa hanya diisi dengan basis sukarela. Sebuah keputusan harus diambil untuk melengkapi sistem ini. Itulah mengapa wajib militer kami gunakan kembali," tambah Hultqvis.

Sebagai negara non-NATO, selama dua abad terakhir Swedia tak pernah terlibat konflik bersenjata di wilayahnya.

Pada 2010, Swedia membekukan wajib militer setelah dianggap tak memuaskan untuk memenuhi kebutuhan sebuah militer yang modern.

Dalam dua dekade terakhir, anggaran militer Swedia juga dipangkas dan fokus militer negeri itu adalah misi menjaga perdamaian selain mempertahankan negara.

Namun, dalam beberapa tahun terakhir muncul kekhawatiran terkait Rusia di kawasan terutama setelah aneksasi Semenanjung Crimea pada 2014.

"Situasi baru ini juga merupakan kenyataan, sebagian karena politik kekuasaan Rusia yang sudah lama diabaikan dan diremehkan," kata Wilhelm Agrell, pakar masalah keamanan dari Universitas Lund.

"Sejak musim dingin 2014, kami melihat Rusia sangat ekspansif dan bersiap menggunakan kekerasan untuk keuntungan mereka," tambah Agrell.

Namun, lanjut Agrell, Swedia tak memiliki kemungkinan atau keinginan politik untuk menghindari konflik di Laut Baltik.

Pada Juni 2015, lembanga "think tank" AS, Cepa, merilis laporan bahwa Rusia menggelar latihan miiter dengan 33.000 personel. Skenario latihan itu adalah invasi ke pulau Gotland, wiayah Swedia di Laut Baltik.

Hanya tiga bulan sebelunya, pemerintah Swedia memutuskan untuk kembali menempatkan militernya di Pulau Gotland, di mana barak tentara terakhir ditutup pada 2005.

Sejak September tahun lalu, sebanyak 150 personel militer Swedia ditempatkan di pulau tersebut.

Sumber: Kompas.com
Ikuti kami di
Klub
D
M
S
K
GM
GK
-/+
P
© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas