Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Sebarkan Berita Negatif Raja, Aktivis Thailand Dihukum Bui 2,5 Tahun

UU tersebut melarang segala bentuk kritik dilayangkan terhadap Kerajaan Thailand.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
Penulis: Ruth Vania C
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Sebarkan Berita Negatif Raja, Aktivis Thailand Dihukum Bui 2,5 Tahun
(Channel News Asia/AFP)
Maha Vajiralongkorn (Channel News Asia/AFP). 

TRIBUNNEWS.COM, BANGKOK - Seorang aktivis dihukum bui 2,5 tahun setelah membagikan berita negatif soal Raja Thailand Maha Vajiralongkorn.

Jatupat Booyapatraksa (26) dinyatakan bersalah, Selasa (15/8/2017), atas tuduhan pelanggaran terhadap undang-undang lèse majesté.

UU tersebut melarang segala bentuk kritik dilayangkan terhadap Kerajaan Thailand.

Booyapatraksa mendapat tuduhan demikian setelah membagikan sebuah artikel BBC di Facebook yang isinya sempat dianggap menghina raja.

Awalnya, Booyapatraksa terancam vonis penjara lima tahun.

Namun, setelah Booyapatraksa mengakui perbuatannya tersebut, masa hukuman dikurangi setengahnya, yaitu 2,5 tahun.

Booyapatraksa telah ditahan lebih dari enam bulan di sebuah penjara di Khon Khaen, sebuah kota di timur laut Thailand.

Rekomendasi Untuk Anda

Masih ada empat tuntutan lain yang ditunda untuk diperkarakan atas Booyapatraksa.

Kerajaan Thailand memberlakukan UU lèse majesté, yang memberikan perlindungan terhadap anggota dan kerabat kerajaan dari segala bentuk kritik.

Bagi yang melanggar, hukumannya adalah dijebloskan ke penjara setidaknya 3 - 15 tahun.

Sebelumnya, BBC Thailand sempat memicu penyelidikan otoritas setempat atas artikelnya yang dianggap menghina raja.

Media berita internasional yang berbasis di Inggris itu pada Desember lalu menerbitkan sebuah artikel berisi biografi Raja Maha Vajiralongkorn, penguasa terbaru Thailand sejak 1 Desember 2016.

Dalam profil yang disajikan, BBC mendeskripsikan bagaimana latar belakang sejarah kehidupan Raja Vajiralongkorn.

Namun, di sela-sela artikel disebutkan pula soal adanya keraguan atas kemampuan Raja Vajiralongkorn untuk memerintah negara itu.

Dalam artikel tersebut juga dikatakan bahwa Raja Vajiralongkorn kurang memiliki wibawa yang sama dengan ayahnya, raja terdahulu Thailand.

Artikel itu segera memicu amarah netizen dan kantor BBC Thailand di Bangkok, Thailand, pun menjadi sasaran kecaman publik.

Atas itu, sekitar 10 polisi Thailand menggerebek kantor BBC Thailand di Bangkok, namun hanya mendapati kantor itu ditutup.

Artikel yang sudah dipublikasikan lewat situs berita BBC Thailand itu sudah diblokir aksesnya melalui internet. (TIME)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas