Nikmati berita interaktif dan LIVE report 24 jam hanya di TribunX
Tribun

Puluhan Ribu Demonstran Di Hongaria Tuntut Sistem Pemilu Baru

Mereka menuntut adanya sistem pemilihan baru dalam unjuk rasa terbesar dalam beberapa tahun terakhir

Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Imanuel Nicolas Manafe
zoom-in Puluhan Ribu Demonstran Di Hongaria Tuntut Sistem Pemilu Baru
Zsolt Szigetvary/MTI via Associated Press
Demonstran tidak puas dengan hasil pemilihan umum Minggu lalu, dan berkumpul di depan gedung Parlemen di alun-alun Kossuth di pusat kota Budapest, Hongaria, Sabtu, 14 April 2018 

Laporan Wartawan Tribunnews.com, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, BUDAPEST - Puluhan ribu Demonstran anti-pemerintah merapatkan barisan di ibu kota Hongaria, Budapest pada Sabtu lalu.

Mereka menuntut adanya sistem pemilihan baru dalam unjuk rasa terbesar dalam beberapa tahun terakhir.

Dikutip dar laman The Washington Post, Minggu (15/4/2018), Perdana Menteri Viktor Orban terpilih kembali untuk masa jabatan keempatnya pada pekan lalu.

Partai populis sayap kanannya, Fidesz memenangkan suara mayoritas dalam majelis nasional, dengan hasil awal menunjukkan bahwa partai tersebut dan sekutunya, Partai Demokratik Kristen memenangkan 134 kursi di legislatif yang memiliki 199 kursi.

Baca: Markas Militer Iran di Suriah di Bom Pesawat Tempur Tak Dikenal

Para pendukung oposisi pun marah karena aturan pemilu Hongaria telah memberikan partai Orban mayoritas kursi di parlemen, padahal hanya memenangkan sekitar 50 persen suara.

BERITA REKOMENDASI

Sementara partai oposisi sayap kiri, memenangkan 12 dari 18 kursi yang dipertaruhkan di distrik Budapest.

Sedangkan partainya Orban, Fidesz memenangkan 85 kursi dari 88 kursi di luar ibu kota.

93 kursi lainnya dialokasikan berdasar pada suara untuk daftar jumlah partai.

Para pengunjuk rasa berbaris dari kawasan Opera ke depan Gedung Parlemen dan meneriakkan 'pemilu baru', 'kami adalah mayoritas', 'Vik-tator' dan 'Fidesz menjijikkan'.

Jumlah pengunjuk rasa membanjiri sepanjang kawasan alun-alun Kossuth Square di luar parlemen neo-Gothic, menyaingi aksi damai pro pemerintah yang diadakan pada 15 Maret lalu.

Koordinator aksi tersebut mengatakan protes anti-pemerintah akan kemnali dilakukan pada akhir pekan depan.

"Kami menginginkan pemilihan yang baru dan adil, ini adalah tanggung jaeab pemerintah dan kami akan mengingatkan mereka tentang ini, (aksi kami lakukan) secara damai dan masif," teriak aktivis oposisi Gergely Gulyas.

Orban, yang berfokus pada kampanye terhadap demonisasi migran, telah menjanjikan 'perubahan signifikan' dalam pemerintahan berikutnya, yang dapat mendorong amandemen konstitusi terhadap migrasi.

Oposisi yang terfragmentasi sistem pemilihan yang rumit, secara tidak proporsional menguntungkan partai terbesar, Fidesz.

Selain itu, keputusan Orban untuk memfasilitasi kewarganegaraan bagi warga Hongaria yang tinggal di negara-negara tetangga seperti Rumania dan Serbia, semuanya berkontribusi pada besarnya kemenangan Orban pada 8 April lalu.

Lebih dari 96 persen pemilih berasal dari negara-negara yang berbatasan, termasuk wilayah yang lepas dari Hongaria setelah Perang Dunia I, yang mendukung partai Orban.

"Ketika saya bertanya kepada kakek nenek saya, mengapa mereka mengizinkan (diktator komunis) Matyas Rakosi untuk tetap berkuasa begitu lama, mereka menjawab bahwa mereka takut," kata penulis sekaligus jurnalis Gergely Homonnay, salah satu penyelenggara aksi tersebut saat menyampaikan kepada para demonstran.

Ia pun kemudian berteriak, "saya tidak takut, kami tidak takut."

Baca: Ahmad Doli Nilai Pernyataan Amien Rais soal Partai Tuhan dan Partai Setan Sangat Berlebihan

Homonnay mengatakan bahwa pengunjuk rasa itu memiliki tiga permintaan yakni mengubah sistem pemilihan yang selamanya menempatkan Fidesz pada kekuasaan.

Kemudian, mengusir Kepala Jaksa Peter Folt yang merupakan sekutu Orban karena selama Folt bekerja, tidak ada satupun kasus korulsi yang ia selidiki.

Lalu, mengeluarkan Fidesz dari campur tangannya terhadap media pemerintah, Fidesz dianggap menjadi promotor propaganda pemerintah yang dituding 'tidak punya rasa malu' dalam beberapa tahun terakhir.

Sedangkan Orban mengklaim bahwa partai-partai oposisi ingin mengubah Hongaria menjadi 'negara imigran' dengan bantuan Uni Eropa, PBB dan miliarder berdarah Hongaria-Amerika sekaligus seorang filantropis, George Soros, namun tudingan Orban itu ditampik pihak oposisi.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
© 2024 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas