Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Standar Ganda Amerika, Lindungi Arab Saudi Serang Yaman, Tapi Bicara Soal Moral di Suriah

Serangan yang diluncurkan Amerika Serikat, mendapat tanggapan menarik dari seorang jurnalis senior Inggris, Neil Clark.

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Aji Bramastra
zoom-in Standar Ganda Amerika, Lindungi Arab Saudi Serang Yaman, Tapi Bicara Soal Moral di Suriah
montase berbagai sumber
Donald Trump, memberi instruksi serangan ke Suriah. 

TRIBUNNEWS.COM - Serangan yang diluncurkan Amerika Serikat, mendapat tanggapan menarik dari seorang jurnalis senior Inggris, Neil Clark.

Clark, yang menulis untuk sejumlah media Inggris seperti The Guardian dan The Daily Mail, menyebut Amerika telah memberlakukan standar ganda untuk krisis di Timur Tengah.

Di satu sisi, Amerika mendukung Arab Saudi menyerang Yaman.

Sementara, di sisi lain, Amerika bicara moral menuding pemerintahan resmi Suriah, yang dipimpin oleh Bashar Al Assad, melakukan pembantaian ke rakyat sendiri.

Sebagaimana diketahui, intervensi militer Arab Saudi ke Yaman, telah berlangsung selama 4 tahun.

Sama dengan Suriah, operasi militer di Yaman juga dikecam oleh sejumlah aktivis kemanusiaan, karena disebut menelan korban tak berdosa.

Toh, Neil menyebut Amerika diam saja dan malah mendapat berlimpah uang, dengan cara memasok persenjataan untuk Arab Saudi.

Rekomendasi Untuk Anda

"Di satu sisi, Amerika menggelar karpet merah untuk pemimpin Saudi, serta mendukung pemboman Saudi di Yaman. Berapa banyak anak tak berdosa terbunuh di sana?,".

"Sementara di sisi lain, mereka bicara moral di Suriah, mengklaim pemerintah Suriah menggunakan senjata kimia untuk membunuh sipil, meski sampai kini tak ada buktinya," ujar Neil Clark.

Dikutip dari portal milik stasiun televisi Rusia, RT, data dari PBB, antara Maret 2015 hingga Februari 2018, hampir 6.000 warga sipil terbunuh, dan 9.500 terluka selama operasi militer Saudi di Yaman.

Dalam laporan mereka, Maret 2018, organisasi Amnesty International menyebut setidaknya 36 serangan udara oleh Saudi yang melanggar hukum kemanusiaan internasional atau kejahatan perang.

Setidaknya, 513 warga sipil, termasuk 157 anak-anak, jadi korban dalam serangan tersebut.

"Jadi, ada bukti kalau banyaknya anak-anak meninggal di Yaman karena kolera dan serangan militer. Ini ada buktinya,"

"Tapi, serangan di Suriah dilakukan atas laporan adanya anak-anak korban perang, tapi laporan itu belum terverikasi betul. Amerika benar-benar melakukan standar ganda yang luar biasa," kata Clark.

Bungkam

Di sisi lain, para Pemimpin Negara Arab tidak membahas serangan rudal Amerika Serikat (AS), Inggris dan Perancis ke Suriah pada Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Liga Arab.

KTT tersebut digelar di Arab Saudi pada Minggu (15/4/2018), sehari setelah serangan terkoordinasi oleh AS, Inggris dan Prancis terhadap tiga area yang diduga terkait dengan produksi senjata kimia di Suriah.

Menurut seorang juru bicara KTT, para pemimpin Arab sempat menyinggung konflik Suriah, tetapi tidak menyoroti serangan yang menargetkan situs-situs dekat Damaskus dan provinsi Homs.

"Para pemimpin menyarankan penyelidikan internasional serta menyayangkan penggunaan senjata kimia di Suriah," ujar Menteri Luar Negeri Arab Saudi Adel al-Jubeir, seperti dilansir Al Jazeera, Senin (16/4/2018).

Sebelumnya, Arab Saudi, Bahrain dan Qatar telah mengeluarkan pernyataan untuk mendukung serangan tersebut. Sementara Mesir, Irak dan Libanon menyatakan keprihatinannya.

Presiden Suriah Bashar al-Assad, yang membantah bahwa rezimnya menggunakan atau memiliki senjata kimia, tidak hadir pada pertemuan itu setelah Suriah ditangguhkan dari Liga Arab pada 2011 lalu.

Analis politik senior Al Jazeera, Marwan Bishara mengatakan "aneh" bahwa serangan AS baru-baru ini di Suriah tidak ada dalam agenda pembahasan.

"Itu sangat aneh. Ini yang bisa disebut sebagai pertemuan tanpa dasar," kata Marwan.

KTT Liga Arab Bahas Pernyataan Trump Soal Yerusalem

Dalam pernyataan penutup di KTT Liga Arab, para pemimpin Arab menolak keputusan Presiden Donald Trump untuk mengakui Yerusalem sebagai ibu kota Israel. Mereka menilai pernyataan tersebut tidak sah dan ilegal.

Trump juga mengumumkan kedutaan AS akan pindah ke Yerusalem, sehingga menarik kecaman internasional dan memicu gelombang protes panas di seluruh dunia.

Sebagai tanggapan, Arab Saudi mengganti nama KTT Liga Arab ke-29 itu menjadi "Quds [Jerusalem] Summit".

"Kami menegaskan kembali penolakan atas keputusan AS soal Yerusalem. Yerusalem Timur merupakan kesatuan bagian dari Palestina," kata Raja Salman.

Status Yerusalem, yang memiliki arti khusus bagi umat Muslim, Kristen dan Yahudi, telah lama menjadi topik sensitif dan menjadi isu inti dalam konflik Israel-Palestina. (*)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas