Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Satu Aplikasi Jutaan
Cerita
Indonesia
DOWNLOAD NOW!
Tribun
LIVE ●
BBC

Burberry bakar tas, baju dan parfum senilai ratusan miliar Rupiah

Perusahaan fesyen terkenal Burberry menghancurkan produk yang tidak diinginkan untuk mencegah barang tersebut dicuri atau dijual murah.

Tribun X Baca tanpa iklan
Nilai keseluruhan barang yang dirusak dalam lima tahun terakhir menjadi lebih dari £90 juta atau Rp1,6 triliun.
Getty Images
Nilai keseluruhan barang yang dirusak dalam lima tahun terakhir menjadi lebih dari £90 juta atau Rp1,6 triliun.

Burberry, label fesyen kelas atas Inggris, membakar pakaian, perhiasaan serta parfum yang tidak terjual, senilai £28,6 juta atau Rp539 miliar tahun lalu, demi melindungi mereknya.

Tindakan ini membuat nilai keseluruhan barang yang dihancurkan dalam lima tahun terakhir menjadi lebih dari £90 juta atau Rp1,6 triliun.

Perusahaan fesyen, termasuk Burberry, selalu menghancurkan produk yang tidak diinginkan untuk mencegah barang tersebut dicuri atau dijual murah.

Burberry menyatakan energi pembakaran produk itu disimpan agar tindakan tersebut ramah lingkungan.

"Burberry memiliki proses berhati-hati untuk mengurangi jumlah kelebihan simpanan barang yang diproduksi. Ketika pembuangan produk harus dilakukan, kami melakukannya secara bertanggung jawab dan terus mencari cara untuk mengurangi dan menilai ulang limbah kami," kata juru bicara perusahan.

Perusahan FTSE 100 ini menyatakan tindakan tersebut "tidak biasa" karena mereka harus membakar banyak parfum setelah menandatangni kontrak baru dengan perusahaan AS, Coty.

Ketika Coty membuat persediaan baru, Burberry harus membuang produk baru, sebagian besar parfum, senilai £10 juta atau Rp188 miliar.

Burberry berusaha membuat mereknya lebih eksklusif.
Getty Images
Burberry berusaha membuat mereknya lebih eksklusif.
Rekomendasi Untuk Anda

Dalam beberapa tahun terakhir, Burberry berusaha keras membuat mereknya kembali menjadi eksklusif, setelah melewati tahap dimana para pemalsu "menaruh nama Burberry di barang apapun", kata Maria Malone, pengajar bisnis fesyen di Manchester Metropolitan University.

Merusak barang yang tidak diinginkan adalah bagian dari proses itu, katanya.

"Alasan mereka melakukan hal ini agar pasar tidak dibanjiri barang diskon," kata Malone.

"Mereka tidak menginginkan produk Burberry jatuh ke tangan orang-orang yang menjual dengan potongan harga sehingga merusak merek."

Tim Jackson, pimpinan British School of Fashion, Glasgow Caledonian University, London mengatakan perusahaan fesyen mewah seperti Burberry menghadapi "masalah".

Mereka harus tumbuh tetapi dengan risiko "melemahkan jati diri dan menciptakan stok berlebih", katanya.

"Mereka tidak akan bisa mengatasi masalah ini."

Burberry bukanlah satu-satunya perusahaan yang harus mengatasi surplus barang mewah.

Richemont, pemilik merek Cartier dan Montblanc, harus membeli kembali jam senilai £430 juta atau Rp8,1 triliun dalam dua tahun terakhir.

Ke pasar atas

November lalu, Burberry mengumumkan perubahan yang bertujuan untuk "menyuntikkan energi" kepada produknya selama beberapa tahun.

Di antaranya adalah dengan membawa merek ini ke pasar atas, menutup toko yang lokasinya tidak strategis dan menciptakan "pusat kecanggihan" barang kulit mewah.

Perusahaan ini juga memotong biaya, yang telah membantu peningkatan keuntungan.

Sumber: BBC Indonesia
BBC
Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas