Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
BBC

Prancis kembali bergolak: Yang perlu diketahui tentang Gerakan Rompi Kuning

Ratusan orang ditangkap. Lebih dari 200 orang orang telah ditahan di Paris yang dijaga sekitar 8.000 petugas dan 12 kendaraan lapis baja.

Sebuah jajak pendapat Jumat kemarin menunjukkan penurunan dukungan pada gerakan itu, tetapi masih pada angka 66%.

Graphic showing number of police and security personnel to be deployed across the country
BBC

Pada pada hari Jumat itu juga, Perdana Menteri Édouard Philippe bertemu dengan perwakilan gerakan itu untuk mencoba memulai dialog.

Tujuh pengunjuk rasa yang hadir menyambutnya. Mereka adalah orang-orang moderat yang mendesak para pengunjuk rasa agar tidak turun ke ibukota.

Salah satunya, Christophe Chalençon, mengatakan dia berharap Presiden Emmanuel Macron akan "berbicara kepada rakyat Perancis sebagai seorang ayah, dengan cinta dan rasa hormat dan bahwa dia akan mengambil keputusan yang berani".

Students protest in Paris
EPA
Kebijakan pendidikan juga jadi sasaran para pengunjuk rasa.

Peringkat kepercayaan terhadap Presiden Macron telah jatuh di tengah krisis. Beberapa kalangan mengkritiknya karena kurang menunjukkan sikap kuat.

Pada hari Jumat, ia mengunjungi barak polisi di pinggiran Paris untuk menunjukkan dukungannya.

Apa tindakan pemerintah?

Pemerintah mengatakan akan membatalkan kenaikan pajak bahan bakar dan tidak akan menaikkan harga listrik dan harga untuk 2019.

Masalahnya adalah bahwa unjuk rasa ini telah merembet ke berbagai masalah lain.

Memberikan konsesi di beberapa isu mungkin tidak berarti menenangkan semua pengunjuk rasa. Sebagian menuntut kenaikan upah, penurunan pajak, pensiun yang lebih baik, persyaratan lebih mudah untuk masuk universitas, dan bahkan pengunduran diri presiden.

Kini bahkan ada yang menyebut Macron sebagai 'presiden bagi orang-orang kaya saja.'

Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: BBC Indonesia
BBC
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas