Australia Berencana Bunuh 2 Juta Kucing Liar Pakai Sosis Beracun
Australia Berencana Bunuh 2 Juta Kucing Liar dengan Menggunakan Sosis Beracun
Penulis:
Tiara Shelavie
Editor:
Sri Juliati
Australia Berencana Bunuh 2 Juta Kucing Liar dengan Menggunakan Sosis Beracun
TRIBUNNEWS.COM - Pemerintah Australia menjadi topik diskusi di kalangan pecinta kucing sejak dikeluarkannya rencana pemusnahan dua juta kucing liar.
Seperti yang dilansir scoopwhoop.com (29/4/2019), Australia berencana menyebarkan sosis beracun lewat udara di atas berhektare-hektare lahan untuk membunuh jutaan kucing liar.
Tujuan dari ide ini yaitu untuk mengurangi populasi kucing liar yang dianggap menjadi penyebab punahnya 20 spesies asli Australia.
Baca: Pria ini Rekam Reaksi Kucing Saat Berada di Ruangan Penuh Tisu, Inilah yang Terjadi
Baca: Kisah Daikichi dan Fuku-chan, 2 Kucing populer di Instagram yang Dikenal Gemar Piknik
Sosis yang akan digunakan sebagai "senjata pembunuh" terbuat dari daging kanguru, lemak ayam, sayuran, bumbu, rempah-rempah, dan racun.
Kucing akan mati dalam 15 menit setelah memakan sosis tersebut.
Pesawat yang ditugaskan akan menjatuhkan 50 sosis tiap kilometer di area yang dipenuhi kucing liar.
Menurut Komisaris Nasional Spesies Terancam Australia, Gregory Andrews, kucing liar merupakan ancaman terbesar spesies asli Australia.
Baca: Generasi Muda Bicara Soal Pemilu di Australia, Apa yang Beda dengan Indonesia?
Penelitian yang dipublikasikan di jurnal Biological Conservation menunjukkan data bahwa kucing liar telah membunuh 377 juta burung dan 649 reptil tiap tahunnya di Australia.
Rencana pemerintah Australia untuk membasmi kucing liar mendapat banyak penentangan dari netizen.
Dilaporkan lebih dari 160 ribu orang menandatangani petisi penolakan wacana pemerintah Australia ini.
Para ahli konservasi berpendapat, pemerintah menyalahkan seluruhnya kucing.
Padahal ada faktor lain yang turut memengaruhi spesies asli Australia.
Misalnya ekspansi kota, penebangan, dan penambangan yang juga mengurangi keanekaragaman hayati.
Netizen juga menyampaikan penolakannya lewat Twitter:
Bagaimana menurut Anda?
(Tribunnews.com, Tiara Shelavie)
Baca tanpa iklan