Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
No Thumbnail
Desktop Version
BBC

Unjuk rasa Hong Kong: Apakah demonstrasi akan menghasilkan perubahan?

Polisi menggunakan peluru karet dan gas air mata ke arah pengunjuk rasa di Hong Kong yang marah terhadap rancangan undang-undang ekstradisi.

Unjuk rasa memainkan peran penting di Hong Kong. Seorang wartawan setempat mengatakan bahwa unjuk rasa ada "di dalam DNA" para demonstran ini.

Karena orang Hong Kong punya hak untuk berunjuk rasa tetapi tak bisa memilih langsung pemerintahan, banyak yang turun ke jalan demi membuat perubahan. Terutama untuk masalah-masalah penting di wilayah itu.

"Ini mungkin sia-sia" kata Ho-Tsing, 27 tahun, kepada BBC. "Namun kami harus bertindak dan memperlihatkan kepada pemerintah dan media internasional bahwa kami tidak akan diam saja dan membiarkan pemerintah China menginjak-injak kami."

Beberapa protes telah menghasilkan hal tak terduga - dan dramatis - di masa lalu.

Hari minggu (09/06) merupakan salah satu protes terbesar dalam sejarah Hong Kong, 9 Juni 2019
EPA
Hari minggu (09/06) merupakan salah satu protes terbesar dalam sejarah Hong Kong.

Pada tahun 2003 diperkirakan sebanyak 500.000 orang turun ke jalan melawan rancangan undang-undang keamanan nasional - dikenal sebagai Pasal 23 - yang kontroversial, dan akhirnya pemerintah membatalkan rancangan tersebut.

Namun para ahli memperkirakan protes kali ini tak akan berhasil mengingat kecil kemungkinan pemerintahan di Beijing mau berkompromi.

"Satu perbedaan besar adalah pemimpin China sekarang, Xi Jinping, punya posisi yang lebih keras daripada pendahulunya," kata profesor Dixon Sing, ilmuwan sosial di Hong Kong University of Science and Technology.

Profesor Steve Tsang, direktur China Institute di SOAS, Universitas London, setuju bahwa kali ini "kemungkinannya para pemrotes ini kecil untuk menang".

"Ada sikap jelas di bawah Xi Jinping bahwa China tidak akan mentolerir segala kegiatan yang dapat berpotensi mengguncang pemerintahan Partai Komunis."

Hal ini juga tercermin dalam protes tahun 2014 yang dikenal sebagai "protes payung" di mana puluhan ribu orang menuntut adanya pemilu demokratis di Hong Kong.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: BBC Indonesia
BBC
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas