Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Di Jepang Ada Pendeta Buddha dari Robot Bisa Berkhotbah dan Berdoa

Rekan pendeta yang berupa manusia sungguhan pun percaya bahwa dengan kecerdasan buatan, suatu hari nanti robot ini bisa memperoleh…

"Awalnya terasa agak tidak wajar, tetapi robot ini mudah diikuti," ujar seorang pengunjung kuil lainnya. "Itu membuat saya berpikir mendalam tentang hal yang benar dan salah."

Namun yang lain merasa kurang yakin, beberapa bersikeras bahwa robot itu terlalu "palsu."

"Khotbahnya terasa tidak nyaman," keluh seorang pengunjung yang datang untuk berdoa. "Ekspresi robot sepertinya terlalu direkayasa."

Kuil Kodaiji juga menghadapi kritik yang kebanyakan berasal dari orang asing karena dianggap merusak kesucian agama.

"Orang dari negara barat utamanya menjadi yang paling kesal dengan robot ini," kata Goto, menambahkan bahwa sebagian besar umpan balik positif datang dari pengunjung asal Jepang. "Bisa jadi karena pengaruh Alkitab, tetapi orang Barat membandingkannya dengan monster Frankenstein," tambahnya.

"Orang-orang Jepang tidak memiliki prasangka terhadap robot. Kami tumbuh besar dengan komik di mana robot adalah teman kami. Orang barat punya pemikiran berbeda."

Goto membantah tuduhan bahwa Kuil Kodaiji, yang baru-baru ini dikunjungi oleh Presiden Prancis Emmanuel Macron, telah melakukan penistaan.

"Tentu saja sebuah mesin tidak memiliki jiwa," katanya. "Tapi keyakinan Buddha bukan tentang percaya pada Tuhan. Ini tentang mengikuti jalan Buddha, jadi tidak masalah apakah (jalan) itu diwakili oleh mesin, potongan besi atau sebuah pohon."

Kuil ini juga menegaskan bahwa dewa belas kasihan mampu mengubah dirinya sesuka hati dan robot hanyalah wujud inkarnasi terbaru.

"Kecerdasan buatan telah berkembang sedemikian rupa sehingga kami pikir logis bagi Buddha untuk berubah jadi robot," kata Goto. "Kami berharap ini bisa menyentuh hati dan pikiran orang-orang."

ae/hp (AFP)

Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas