Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Mahathir Mohamad: Orang Melayu Awet Miskinnya karena Malas Bekerja

Mahathir Mohamad mengkritik sifat warga Melayu yang malah menyalahkan etnis lain karena kesuksesan mereka.

Mahathir Mohamad: Orang Melayu Awet Miskinnya karena Malas Bekerja
UTUSAN.COM.MY
Mahathir Mohamad 

TRIBUNNEWS.COM, KUALA LUMPUR - Hanya beberapa hari sebelum kampanye besar yang diselenggarakan oleh partai-partai oposisi berbasis agama dan ras Malaysia, Perdana Menteri Mahathir Mohamad meluncurkan kritik keras terhadap etnis  Melayu di negara tersebut.

Mahathir menyebut orang-orang suku Melayu terus-terusan miskin karena tak mau bekerja keras. Ia mengkritik sifat warga Melayu yang malah menyalahkan etnis lain karena kesuksesan mereka.

Dalam sebuah postingan blog yang dikutip South China Morning Post, Mahathir mengatakan orang Melayu yang merupakan etnis mayoritas di Malaysia masih malas untuk bekerja.

“Orang Melayu harus menyadari apa yang terjadi pada mereka. Sayangnya, mereka belum sadar. Orang asing telah membanjiri negara kita. Tujuh juta orang asing ada di sini. Mereka bekerja. Apa yang akan terjadi pada orang Melayu?,” tulis Mahathir dalam blognya. 

Populasi Melayu di Malaysia saat ini mencapai sekitar 31 juta penduduk.

Mahathir, yang juga menjabat sebagai perdana menteri dari tahun 1981 hingga 2003, telah lama mencerca kurangnya dorongan bagi masyarakat Melayu untuk bekerja keras. 

Baca: Ini Penjelasannya, Mengapa Laka Maut Sering Terjadi di Sekitar KM 91-92 Tol Purbaleunyi

Selama masa jabatan pertamanya sebagai perdana menteri, ia mendorong industrialisasi negara dan dengan giat mempromosikan kebijakan afirmatif berbasis ras yang bertujuan mengurangi ketidaksetaraan sosial ekonomi antara orang Melayu dan ras lain di Malaysia, yang mencakup etnis China dan India.

“Nasib kami ada di tangan kami sendiri. Marah dengan orang lain tidak akan menyelesaikan masalah kita. Karena [Melayu] tidak mau bekerja keras, untuk menjalankan bisnis dengan serius, mereka tetap miskin," tulis Mahathir.

Pernyataan Mahathir datang di tengah meningkatnya ketegangan rasial atas isu-isu yang dianggap sebagai bias pro-Islam dalam pendidikan publik, kehadiran seorang pengkhotbah Muslim India yang kontroversial, dan kampanye untuk memboikot produk-produk 'non-Muslim' oleh kelompok media sosial yang telah mengumpulkan ratusan ribu anggota.

Sementara orang non-Melayu menuduh pemerintah menjadi calo bagi pemilih Melayu, orang Melayu mempertanyakan apakah mereka dapat terus melindungi hak-hak istimewa mereka, yang diabadikan dalam konstitusi.

“Pernyataannya dibuat untuk memberikan pemahaman yang lebih baik kepada etnis Tionghoa tentang posisi lemah orang Melayu dalam perekonomian, dan untuk mengirim pesan bahwa kemampuan orang Melayu untuk memboikot orang lain masih terbatas karena mereka bergantung pada etnis lain ketika berbicara soal ekonomi, ”kata ilmuwan politik Awang Azman dari Institut Studi Melayu Universitas Malaya.

Para pemimpin pemerintah - termasuk Mahathir dan wakil perdana menteri Wan Azizah Wan Ismail - telah mendesak warga Malaysia untuk mengabaikan semua seruan untuk boikot berbasis ras dan berfokus pada mendukung bisnis lokal.

 

Tendi/Sumber: South China Morning Post
Artikel ini tayang di Kontan dengan judul Mahathir: Orang Melayu terus-terusan miskin karena malas bekerja

Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kontan
  Loading comments...

Baca Juga

© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas