Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Atasi Kabut Asap dari Indonesia, Malaysia Rencanakan Hujan Buatan

Malaysia bersiap lakukan tabur benih awan setelah kualitas udara di sejumlah bagian negara itu mencapai tingkat tidak sehat akibat…

Asap dari Indonesia secara rutin menyelimuti sebagian Asia Tenggara selama musim kemarau akibat aktivitas pembakaran untuk membuka lahan perkebunan kelapa sawit dan tanaman perkebunan lainnya. Hal ini memicu kemarahan dari negara-negara tetangga di kawasan regional. Dalam kasus terakhir, sejumlah area di negara bagian Sarawak diselimuti kabut asap selama beberapa hari terakhir.

Indeks polusi di beberapa tempat telah mencapai "tingkat yang sangat tidak sehat," ujar Gary Theseira, petugas dari Kementerian Lingkungan di Malaysia.

"(Keadaan) ini sangat parah di Kuching," kata Theseira. Ia merujuk pada kota dengan penduduk sekitar setengah juta orang. Dia mengatakan Malaysia siap melakukan penyemaian awan untuk mendorong turunnya hujan guna meredakan kabut asap.

"Saat kedudukan awan tepat, bahan kimia akan dibawa dan pesawat akan lepas landas dan melakukan pembenihan," katanya.

Beberapa negara juga melakukan penyemaian awan selama musim kemarau berkepanjangan untuk memicu hujan dan membersihkan udara, meski beberapa ahli mempertanyakan efektivitasnya.

Boo Siang Voon, insinyur berusia 47 tahun di Kuching menggambarkan langit sekarang "berkabut, panas dan berbau asap."

"Tahun ini kabut asap semakin memburuk. Warga mengenakan masker wajah. Kami seharusnya tidak membayar dampak adanya pembakaran (lahan) terbuka dengan kesehatan kami. Kami inginkan solusi," ujarnya.

Ibu kota Malaysia, Kuala Lumpur, dan negara tetangga Singapura, juga mengalami kondisi serupa pada hari Senin (09/09). Udara di sana bercampur aroma dedaunan terbakar, meskipun indeks polutan tetap pada tingkat moderat. Sejumlah warga Kuala Lumpur mengeluhkan iritasi mata dan tenggorokan.

Departemen Meteorologi Malaysia hari Minggu (08/09), memperingatkan bahwa cuaca panas masih akan berlanjut selama seminggu lagi, dan musim hujan diharapkan baru datang pada akhir September atau awal Oktober.

Kementerian Sains, Teknologi dan Inovasi pada hari Jumat (06/09) menyatakan berencana mengajukan keluhan resmi kepada Indonesia terkait kabut asap dan menyerukan adanya tindakan cepat untuk memadamkan api.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas