Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Ironi Limbah Nuklir dalam Pembangkit Listrik

Negara-negara di Afrika berencana melakukan investasi energi nuklir sebagai sumber listrik yang bersih. Rencana tersebut tampaknya…

Tujuh puluh tahun setelah era nuklir dimulai, tidak ada satu pun negara yang membangun tempat untuk membuang limbah nuklirnya secara aman. Hal ini diungkapkan oleh sebuah laporan yang terbit pekan ini, sehingga meningkatkan kekhawatiran bagi pemerintah atau negara-negara yang tengah mempertimbangkan memakai tenaga nuklir sebagai alternatif dari bahan bakar fosil.

Menurut laporan World Nuclear Waste, lebih dari 60.000 ton limbah radioaktif dalam bentuk bahan nuklir batangan bekas disimpan di lokasi sementara di seluruh Eropa. Beberapa disimpan di fasilitas-fasilitas lama yang sudah kehabisan kapasitas dan diperkirakan masih akan digunakan selama beberapa dekade, lebih lama dari yang direncanakan.

Menurut laporan dari Heinrich Böll Foundation yang berafiliasi dengan Partai Hijau Jerman, Finlandia menjadi satu-satunya negara yang membangun repositori permanen bawah tanah untuk limbah nuklir yang memancarkan radiasi dalam jumlah besar selama puluhan ribu tahun.

"Kita berbicara tentang kerangka waktu yang melampaui skala manusia, yang dapat kita pikirkan," kata Arne Jungjohann, ilmuwan politik dan pemimpin redaksi dari laporan tersebut. "Kita masih tidak tahu dimana harus menaruh limbah itu dengan aman supaya tidak akan ada yang terluka, tidak rentan terhadap serangan teroris dan tidak dicuri untuk membuat bom nuklir", tambahnya.

Di awal era nuklir, bahan-bahan radioaktif diencerkan dan dibuang begitu saja ke lingkungan, hal itu dilakukan sebelum pemerintah pada akhirnya memutuskan menyimpan limbah nuklir dengan aman di bawah tanah. Tetapi, proyek-proyek dari tahun 1960 dan seterusnya harus memenuhi standar keselamatan yang tinggi, "sampai pada batas maksimum jika memungkinkan", jelas laporan tersebut.

Hal ini meningkatkan kekhawatiran bagi negara-negara berkembang yang berencana menggunakan tenaga nuklir.

Tenaga Nuklir di Afrika

Populasi perkotaan di Afrika akan meningkat dua kali lipat dalam tiga dekade mendatang, membuat permintaan akan infrastruktur dan energi semakin masif. Pada 2017, hanya setengah dari warga Afrika yang memiliki akses listrik, padahal rata-rata global sebesar 88%, seperti ditunjukkan data Bank Dunia.

Karena berkeinginan untuk menghubungkan warga dengan jaringan listrik dengan menghindari emisi tinggi dari negara-negara Barat, beberapa negara akhirnya mengeksplorasi nuklir sebagai cara memasok energi yang murah dan stabil.

Menurut Asosiasi Nuklir Dunia, Afrika Selatan menjadi satu-satunya negara dari benua Afrika yang saat ini tengah mengoperasikan pembangkit nuklir, sementara belasan negara lain tengah mempertimbangkan akan membangun pembangkit nuklir atau tidak.

Sebuah makalah yang diterbitkan dalam jurnal sains dan teknologi, menemukan bahwa di awal tahun ini beberapa negara seperti Aljazair, Mesir, Ghana, Kenya, Namibia, Nigeria, Tanzania, Uganda dan Zambia, telah menandatangani perjanjian kerja sama dengan perusahaan energi nuklir dari Rusia bernama Rosatom. Sementara, negara-negara lainnya memiliki kontrak dengan Cina.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2019 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas