Xi Jinping Belum Gubris Tawaran AS soal Pengiriman Bantuan ke China Hadapi Virus Corona
Namun, ia berharap China mau menerima tawaran bantuan dari Amerika Serikat
Penulis:
Fitri Wulandari
Editor:
Imanuel Nicolas Manafe
TRIBUNNEWS.COM, WASHINGTON - Seorang pejabat kesehatan Amerika Serikat (AS) pada Selasa (28/1/2020) kemarin mengatakan dia menawarkan untuk mengirimkan tim dari Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit AS ke China demi membantu penanganan wabah virus corona.
Sekretaris Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan AS Alex Azar tidak menjelaskan secara rinci terkait bagaimana tanggapan Menteri Kesehatan China atas tawarannya itu.
Baca: Virus Corona, Australia akan Evakuasi Warganya dari Wuhan dan Diisolasi Di Pulau Christmas
Namun, ia berharap China mau menerima tawaran bantuan dari AS.
Sementara itu, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Selasa kemarin, mengatakan China telah setuju untuk mengizinkan para pakar kesehatan global masuk ke negara tersebut.
Dikutip dari laman The Washington Post, Rabu (29/1/2020), Presiden China Xi Jinping menyampaikan pada Selasa, bahwa negaranya terbuka, transparan, dan bertanggung jawab dalam penanganan wabah virus corona ini, karena jumlah kasusnya terus mengalami peningkatan.
Korban tewas pun telah meningkat menjadi 132 orang di China, dengan lebih dari 5.974 kasus infeksi dikonfirmasi hingga Rabu pagi waktu setempat.
Peningkatan kasus pun mengalami lonjakan per harinya sekitar lebih dari 1.000 kasus.
Negara-negara lain turut melaporkan ada lebih banyak orang telah terinfeksi, dan nyaris seluruhnya merupakan turis asal China.
Sementara itu, Jerman melaporkan pada Selasa malam terkait adanya tiga kasus baru dan mengatakan bahwa mereka yang diduga terinfeksi ini terhubung dengan pasien pertama Jerman, yakni laki-laki berusia 33 tahun yang kemungkinan besar tertular corona oleh seorang koleganya dari China yang ia temui di salah satu kota di Jerman.
Kemudian Hong Kong telah mengumumkan langkah dramatisnya utnuk membendung serbuan warga China daratan ke wilayah itu.
Pemerintah Hong Kong menutup dua jalur kereta api, feri dan bus wisata lintas batas.
Penerbangan ke China daratan pun akan dibatalkan setengahnya, dan visa individu ke China tidak akan lagi dikeluarkan mulai Kamis mendatang.
Maskapai United Airlines pun menangguhkan beberapa penerbangan dari AS ke China setelah permintaan turun drastis.
Sejumlah negara, termasuk Prancis, Korea Selatan, Kanada, Inggris serta AS pun sedang menyusun rencana untuk mengevakuasi warganya dari pusat penyebaran wabah di kota Wuhan, provinsi Hubei, China.
Baca: Diduga Modifikasi Airsoft Gun Jadi Senapan Sungguhan, Pegawai BUMN Terancam Hukuman Seumur Hidup
Sedangkan Thailand telah mengkonfirmasi enam kasus lainnya, menjadikan totalnya bertambah mencapai 14 kasus di tengah seruan untuk menutup perbatasan dan akses masuk turis asal China.
Perlu diketahui, infeksi virus ini telah dikonfirmasi terjadi di Prancis, Korea Selatan, Jepang, Nepal, Kamboja, Singapura, Vietnam, Taiwan, Kanada dan Sri Lanka. (Fitri Wulandari)
wajib cek suhu tubuh
Wabah virus Corona membuat warga Negeri Tirai Bambu harus berhati-hati dalam beraktivitas.
Mereka harus memastikan diri tidak tertular virus ini dan tidak menularkan ke orang lain.
Baca: Virus Corona, Australia akan Evakuasi Warganya dari Wuhan dan Diisolasi Di Pulau Christmas
Xue Ma, warga Gaomi, Weifang, Provinsi Shandong misalnya.
Xue Ma mengaku baik-baik saja sejak virus Corona mewabah di negaranya.
"Tetap jaga jarak dan tidak tertular adalah hal terbaik yang sekarang bisa saya lakukan untuk China," ujar Xue Ma saat dihubungi Tribunnews.com dari Jakarta, Rabu (29/1/2020) pagi.
Xue Ma menceritakan kota tempat dia tinggal tidak diisolasi seperti Wuhan, Provinsi Hubei.
Dia bisa tetap beraktivitas di luar ruangan seperti berbelanja, meski harus mengenakan masker.
"Saya bisa mengenakan masker dan pergi ke pasar swalayan di kota saya, tapi saya harus memeriksakan suhu tubuh saya sebelum masuk ke pasar swalayan," tutur Xue Ma.
Dia menuturkan transportasi umum di Provinsi Shandong masih beroperasi meski tidak semua.
"Kereta dan pesawat terbang masih baik-baik saja, tapi bus-bus dan mobil antarkota berhenti beroperasi," ujar Xue Ma.
Baca: Puncak Virus Corona Diperkirakan Capai 7-10 Hari, Setelahnya Tak Ada Peningkatan Besar
Xue Ma menuturkan kasus virus Corona di Provinsi Shandong telah mencapai 121 kasus.
Di Gaomi, tempat tinggalnya, terdapat satu kasus yang terkonfirmasi positif.