Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Berjuang Melawan Maut, Pasien Korban Virus Corona Akhirnya Meninggal di Taiwan

Pasien yang tidak disebutkan identitasnya itu mengidap diabetes, Hepatitis B, dan tidak diketahui bagaimana dia tertular virus corona.

Berjuang Melawan Maut, Pasien Korban Virus Corona Akhirnya Meninggal di Taiwan
Behrouz MEHRI/AFP
Dua bus tiba di dermaga di mana kapal pesiar Diamond Princess berlabuh di di Daikaku Pier Cruise Terminal di pelabuhan Yokohama Jepang pada 16 Februari 2020. Penumpang kapal pesiar ini dikarantina di dalam kapal karena kekhawatiran penyebaran virus corona di Jepang. 

TRIBUNNEWS.COM, TAIPEI - Pemerintah Taiwan mengumumkan, pasien yang dirawat karena terinfeksi virus corona meninggal, menjadikannya sebagai kasus kematian pertama.

Dalam konferensi pers, Menteri Kesehatan Chen Shih-chung menyatakan bahwa korban merupakan pria yang berusia sekitar 60 tahun.

Dilansir Focus Taiwan maupun Channel News Asia Minggu (16/2/2020), korban disebut tidak punya riwayat bepergian ke luar negeri baru-baru ini.

Selain itu, pasien yang tidak disebutkan identitasnya itu mengidap diabetes, Hepatitis B, dan tidak diketahui bagaimana dia tertular virus corona.

Laporan yang disampaikan Chen membuat Taiwan mencatatkan kasus kematian pertama virus yang merebak di China sejak Desember 2019 itu.

Di China sendiri, patogen dengan nama resmi Covid-19 tersebut membunuh lebih dari 1.600 orang, dan menginfeksi sekitar 69.000.

Baca: Skandal Keuangan Jiwasraya, Kejagung Telusuri Keterlibatan Pejabat OJK yang Lama

Terdapat total lima kasus kematian yang dilaporkan di luar China. Selain di Taiwan, masing-masing terjadi di Hong Kong, Filipina, Perancis, dan Jepang.

Baca: Skandal Manipulasi Keuangan Mengguncang Manchester City, Begini Kronologinya

Otoritas Negeri "Panda" menyebut jumlah kasus infeksi baru virus yang berasal dari Pasar Seafood Huanan di Wuhan itu menurun selama tiga hari berturut-turut.

Menteri Luar Negeri Wang Yi menyatakan, Beijing membuat "pengorbanan" melalui serangkaian kebijakan untuk menjaga keamanan kesehatan global.

Meski begitu, dunia masih menjaga kewaspadaan dengan Badan Kesehatan Dunia (WHO) mengaku "mustahil" memprediksi bagaimana perkembangan wabah ini.

Halaman
123
Ikuti kami di
Add Friend
Editor: Choirul Arifin
Sumber: Kompas.com
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas