Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Setahun Legalisasi Pernikahan Sesama Jenis di Taiwan, Belum Juga Tercapai ‘Kebahagiaan Selamanya‘

Setahun sudah Taiwan sahkan undang-undang perkawinan sejenis. Namun Lois merasa jadi warga kelas tiga. Pernikahannya tak kunjung dilegalkan…

Ketika Taiwan menjadi tempat pertama di Asia yang mengizinkan pernikahan sesama jenis tahun lalu, seorang profesor di universitas, Lois berada di jalan-jalan ibu kota Taipei, di antara ribuan lesbian, gay, biseksual dan transgender (LGBT) yang bersorak-sorai dan melambaikan bendera pelangi.

Setahun berlalu. Lois dan pasangannya yang merupakan warga negara Cina masih tetap tidak punya hak untuk menikah secara resmi. Mereka seperti juga ratusan pasangan lainnya, mengalami pembatasan pernikahan sesama jenis karena pasangannya berasal dari negara lain yang tidak melegalkan ketentuan serupa.

"Saya sangat bangga setahun yang lalu. Sekarang saya merasa diperlakukan seperti seorang warga negara kelas tiga," kata Lois, berusia 42 tahun yang menolak memberikan nama keluarga karena tidak membuka identitasnya di lingkungan kerja.

Bagian yang hilang dari puzzle

Pernikahan sesama jenis dilegalkan di Taiwan pada tanggal 24 Mei tahun lalu, seminggu setelah parlemen setempat meloloskan rancangan undang-undang yang menawarkan perlindungan pernikahan bagi pasangan homoseksual.

Tetapi kaum LGBT+ hanya bisa menikahi orang asing dari suatu negara di mana pernikahan sesama jenis di negara yang bersangkutan juga sah atau diakui negara.

Pasangan Lois, yang berasal dari Cina di mana pernikahan gay tidak diakui, harus melepaskan pekerjaannya pada tahun 2017 dan menjadi mahasiswa di Taiwan, sehingga bisa tinggal di sana dan membesarkan anak mereka yang berusia tiga tahun.

Karena mereka belum menikah secara resmi, pasangan Lois tidak bisa mendapatkan visa pasangan. Mereka telah berpisah sejak pasangan dan putra dari pasangannya kembali ke Cina saat masa liburan, sebelum Taiwan memberlakukan pembatasan kunjungan untuk mengendalikan penyebaran virus corona.

"Berdasarkan hukum, hubungan anak dari pasangan saya dan saya tidak diakui. Saya ingin kami- saya, istri, putra saya - untuk diakui sebagai keluarga," kata Lois kepada Reuters melalui telepon.

Lama dipandang sebagai suar liberalisme di Asia, Taiwan menjadi tempat pertama di wilayah itu untuk memungkinkan pernikahan gay, meskipun langkah itu menghadapi tentangan keras dan menjadi kontroversi. Perdebatan tentang hak-hak LGBT telah meruncingkan polarisasi dalam masyarakat antara kubu yang mendukung dan yang menentang.

Lebih dari 3.500 pasangan gay telah menikah sejak tahun lalu, demikian ditunjukkan data resmi pemerintahan. Sekitar 1.000 pasangan lainnya lebih tidak diakui pernikahannya karena adanya pembatasan pada warga asing.

Halaman
12
Ikuti kami di
Add Friend
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas