Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Taliban Bantah Langgar Perjanjian Damai Amerika

PBB melaporkan Taliban melanggar butir terpenting perjanjian damai dengan AS agar memutus kerjasama dan ikut memerangi kelompok teror…

Kelompok militan Afghanistan, Taliban, menepis laporan Perserikatan Bangsa-bangsa yang mengaitkan kelompok tersebut dengan organisasi teror Al-Qaida. Dalam keterangan persnya, Taliban menilai laporan PBB “tidak berdasar“ dan “penuh prasangka.”

“Emirat Islam menolak keras konten laporan ini,” tulis Taliban dengan memakai nama yang digunakan kelompok ini saat berkuasa di Afghanistan.

Sebelumnya PBB menyimpulkan Taliban masih merawat hubungan dekat dengan jejaring Al-Qaida, meski telah menandatangani perjanjian damai dengan Amerika Serikat dan berjanji ikut memerangi organisasi terror itu.

Menurut laporan tersebut, sejumlah petinggi Al-Qaida masih aktif beroperasi di Afghanistan, walaupun kehilangan sejumlah figur terpenting yang tewas dalam beberapa bulan terakhir.

Taliban tercatat masih melanjutkan operasi bersenjata bersamajejaring Haqqani. Kelompok yang kelahirannya juga dibidani oleh Amerika Serikat pada 1980an itu menyatakan sumpah setia kepada Taliban, tapi diyakini berutang budi pada Al-Qaeda lantaran dibantu saat memerangi invasi AS pada 2001.

Bahasa samar perjanjian damai

Jurubicara Taliban, Zabihullah Mujahid, menepis laporan itu dan menegaskan “Taliban tidak akan membiarkan pihak lain menggunakan tanah Afghanistan buat memerangi pihak lain atau mengoperasikan kamp pelatihan, atau menggunakan tanah kami untuk mencari dana, sesuai dengan perjanjian di Doha.“

Kesepakatan Doha yang ditandatangani kedua pihak akhir Februari silam mewajibkan Taliban memerangi kelompok teror lain, termasuk Al-Qaida. Namun komitmen tersebut tidak diurai secara detail lantaran masalah keamanan.

Zalmay Khalizad, Utusan Khusus AS dan salah seorang arsitek Perjanjian Doha, mengatakan komitmen Taliban sangat spesifik, “menyangkut keberadaan kelompok teror lain, pelatihan, perekrutan dan pengumpulan dana di kawasan yang mereka kuasai saat ini.“

Perjanjian itu dikritik karena antara lain tidak disusun dalam bahasa yang tegas, sehingga menyulitkan pengawasan terhadap kepatuhan Taliban.

“Salah satu dari banyak masalah pada perjanjian yang cacat ini adalah butir tuntutan terhadap komitmen anti-teror Taliban dibuat dengan kalimat yang samar,“ kata Michael Kugelman dari wadah pemikir AS, Wilson Center.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas