Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Studi: Indonesia Berhasil Tekan Deforestasi, Tapi Masih Tiga Besar Dunia 

Dalam laporan terbaru World Resources Institute (WRI), Brasil, Republik Demokratik Kongo, dan Indonesia menjadi tiga negara teratas…

Sebagai negara yang “masih menggantungkan ekonominya terhadap sumber daya alam,” Arief mengatakan secara umum degradasi hutan dan lahan di Indonesia disebabkan karena beralih fungsinya hutan dan lahan menjadi perkebunan untuk kepentingan industri. “Harusnya kegiatan itu bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik,” imbuh Arief.

Bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga negara yang kehilangan hutan primer terbanyak di dunia, Arief berpendapat hal tesebut tidak luput dari faktor total luasan hutan yang dimiliki suatu negara. “Kalau mau lebih fair penilaiannya itu tidak hanya dilihat dari total deforestasi, tapi dibandingkan juga dengan berapa total luas hutan yang ada di negara tersebut,” tegasnya.

Lebih lanjut Arief menyampaikan beberapa rekomendasi seperti perbaikan tata kelola lahan, ketersediaan data dan peta spasial yang akurat, penyelesaian konflik kepemilikan lahan, dan penegakan hukum yang tidak “runcing ke bawah tumpul ke atas.” Ini diharapkan dapat terus menekan angka hilangnya hutan primer di Indonesia di waktu yang mendatang.

“Kalau Indonesia sudah mampu mengurangi deforestasi, harapannya ke depan jadi zero deforestation. Kemudian hutan yang sudah rusak bisa kembali”. Jadi tidak hanya menurunkan deforstasi, melainkan juga mengembalikan hutan yang sudah hilang, pungkasnya.

Bolivia melesat, Kolombia turun drastis

Dalam laporan tersebut disebutkan, Bolivia mengalami peningkatan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya. Pada 2018, Bolivia kehilangan lebih kurang 154 ribu hektar hutan primer. Angka ini meningkat 80% di tahun 2019 menjadi 290 ribu hektar, menempatkan Bolivia di urutan keempat setelah Indonesia.

"Hutan Chiquitano yang memiliki keanekaragaman hayati sangat terpengaruh, dengan laporan bahwa hampir 12% dari wilayah hutan tersebut terbakar," kata laporan terbaru WRI.

Kontras dengan Bolivia, Kolombia justru mengalami penurunan signifikan setelah pada tahun 2017 dan 2018 mencatat angka kehilangan hutan primer yang cukup tinggi. Di tahun 2019, Kolombia mencatat kehilangan sebanyak 115.000 hektar, 62 ribu lhektar ebih sedikit dibanding tahun sebelumnya.

Tren ini menunjukkan bahwa pemerintah Kolombia serius dalam mememerangi deforestasi. Pada April 2019, Presiden Kolombia meluncurkan “Operasi Artemisa,” dengan menerjunkan militer, polisi dan entitas publik lainnya untuk menghentikan deforestasi. Meski operasi tersebut sempat dinilai kontroversial mengingat tindakan yang dilakukan pihak militer. Meski menurun, angka kehilangan hutan primer di Kolombia di tahun 2019 masih tergolong tinggi dalam rentang dua dekade terakhir.

Peneliti WRI Frances Seymour juga menyoroti soal kepastian hukum atas hutan adat, yang dinilainya sudah “memberikan perlindungan hutan yang lebih baik.”

“Kita tahu deforestasi lebih rendah terjadi di wilayah hutan adat,” katanya.

Negara lainnya seperti Peru, Malaysia, Laos, Meksiko, dan Kamboja turut melengkapi daftar 10 negara dengan kehilangan hutan primer terbesar di seluruh dunia.

rap/hp (dari berbagai sumber)

Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas