Tribun
TribunJualbeli
Tribunnews.com
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Tewasnya Wali Kota Seoul Diwarnai Isu Dugaan Pelecehan Seksual

Jasad Wali Kota Seoul Park Won-soon ditemukan di sebuah distrik di utara Seoul setelah pencarian besar-besaran oleh kepolisan. Park…

Tewasnya Wali Kota Seoul Diwarnai Isu Dugaan Pelecehan Seksual

Jumat (10/07) dini hari waktu setempat, polisi mengatakan bahwa mereka telah menemukan jasad Wali Kota Seoul Park Won-soon di Sungbuk-dong, sebuah distrik di utara Seoul, lokasi terakhir dari ponselnya sebelum dimatikan. Jasad Park ditemukan di perbukitan, dekat dengan restoran tradisional dan ruang perjamuan di sana.

Sebelumnya operasi pencarian besar-besaran oleh polisi telah berlangsung sekitar 7 jam di daerah itu. Polisi tidak menjelaskan tentang penyebab kematian, tetapi mengatakan bahwa mereka tidak menemukan indikasi awal adanya tindak kekerasan.

Pencarian dilakukan setelah putri Park memberitahu polisi bahwa ayahnya telah meninggalkan pesan “semacam surat wasiat” dan pergi dari rumah tanpa kembali.

Park dilaporkan meninggalkan kediaman dinasnya sekitar pukul 10:40 waktu setempat, dengan mengenakan topi hitam dan sebuah ransel. Laporan media lokal mengindikasikan bahwa Park membatalkan sebuah rapat kebijakan yang dijadwalkan Kamis (09/07) pagi. Seorang pejabat dari Pemerintah Metropolitan Seoul, Kim Ji-hyeong, mengatakan kepada AP bahwa Park tidak masuk untuk bekerja pada Kamis.

Media lokal dan kantor berita AFP melaporkan bahwa seorang mantan pegawai Kota Seoul telah mengajukan tuduhan pelecehan seksual terhadap Park kepada polisi pada Rabu (08/07) malam. Media lokal mengklaim bahwa saluran televisi berencana menyiarkan berita tentang dugaan kasus pelecehan itu pada Kamis (09/07) malam.

Pengacara HAM yang jadi wali kota

Park terpilih sebagai Wali Kota Seoul pada tahun 2011 dan terpilih untuk masa jabatan yang ketiga dan terakhirnya pada Juni 2019.

Pria berusia 64 tahun itu adalah aktivis sipil dan pengecara hak asasi manusia (HAM), yang dikenal gencar mengkritik kesenjangan sosial dan ekonomi Korea Selatan yang terus meningkat. Dia bekerja membela aktivis politik pada 1980-an dan 1990-an sebelum mendirikan Solidaritas Rakyat untuk Demokrasi Partisipatif, sebuah LSM yang membantu mereformasi para konglomerat yang mendominasi bisnis Korea Selatan, yang kemudian menjadi salah satu organisasi nirlaba terbesar di Korea Selatan.

Dia memainkan peran utama dalam Demonstrasi Candlelight yang mengarah pada pemakzulan di tahun 2017 dan hukuman di tahun 2018 terhadap mantan Presiden Park Geun-hye.

Park Won-soon adalah anggota Partai Demokrat liberal Presiden Moon Jae-in, dan telah digadang-gadang untuk maju dalam pemilihan presiden Korea Selatan berikutnya pada tahun 2022.

gtp/rap (AP, dpa, Reuters)

Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas