Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Jerman Tolak Usulan Trump untuk Masukkan Kembali Rusia ke G-7

Rusia masih menjadi bagian dari G-20, pengelompokan yang lebih luas termasuk ekonomi pasar baru lainnya.

Jerman Tolak Usulan Trump untuk Masukkan Kembali Rusia ke G-7
AFP/KIRILL KUDRYAVTSEV
Seorang wanita menonton siaran langsung pidato Presiden Rusia Vladimir Putin kepada bangsa tersebut atas wabah koronavirus, di Moskow pada 25 Maret 2020. (AFP/Kirill KUDRYAVTSEV/AFP) 

TRIBUNNEWS.COM, BERLIN -- Jerman menolak usulan Presiden AS Donald Trump untuk mengundang Presiden Rusia Vladimir Putin kembali bergabung ke dalam kelompok tujuh (G-7) perekonomian yang paling maju di dunia.

Hal itu disampaikan Menteri Luar Negeri Jerman Heiko Maas dalam sebuah wawancara dengan Surat Kabar Rheinische Post yang diterbitkan pada Senin (27/7/2020).

Trump mengusulkan pada bulan lalu untuk memperluas G-7, termasuk memasukkan kembali Rusia, yang telah dikeluarkan pada 2014 lalu menyusul aneksasi Moskow di wilayah Krimea Ukraina.

Maas mengatakan ia tidak melihat ada kesempatan untuk memungkinkan Rusia kembali ke G-7 selama tidak ada kemajuan yang bermakna dalam menyelesaikan konflik di Crimea serta di Timur Ukraina.

"Rusia sendiri dapat membuat kontribusi terbesar untuk menjadi bagian dari G-7 lagi dengan berkontribusi pada solusi damai dalam konflik Ukraina," kata Maas.

Baca: Undangan KTT G7 Ditolak Merkel, AS Tarik 9.500 Tentara dari Jerman: Hubungan Kedua Negara Memburuk?

Rusia masih menjadi bagian dari G-20, pengelompokan yang lebih luas termasuk ekonomi pasar baru lainnya.

"G7 dan G-20 adalah dua format yang terkoordinasi dengan bijaksana. Kita tidak perlu G-11 atau G-12 lagi, "kata Maas yang mengacu pada usulan Trump untuk mengundang tidak hanya Rusia, tetapi negara lain untuk pertemuan G7.

Meskipun demikian keberadaan Rusia masih dibutuhkan G-7 untuk menyelesaikan konflik di Suriah.

"Tapi kami juga tahu, kami perlu Rusia untuk menyelesaikan konflik seperti yang di Suriah, Libya dan Ukraina, " jelasnya.

"Rusia juga harus membuat kontribusinya, di Ukraina," kata Maas.

Halaman
12
Ikuti kami di
Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas