Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Iran Khawatir Kehilangan Pengaruh Pasca Pergantian Kekuasaan di Lebanon 

Iran memantau perkembangan di Lebanon dengan waswas lantaran terancam kehilangan pengaruh menyusul suksesi politik di Beirut. Amarah…

Sepekan setelah ledakan dahsyat di pelabuhan Beirut, kerusakan masih mendominasi wajah ibu kota Lebanon itu. Penduduk turun ke jalan untuk meluapkan amarah terhadap kaum elit, karena dinilai ikut bertangungjawab atas tragedi yang merenggut 158 nyawa tersebut.

Senin (19/8) malam, Perdana Menteri Hassan Diab mengumumkan pembubaran kabinet dan memerintahkan pemilihan umum buat mencari pemerintahan baru. Langkah itu sekaligus mengakhiri pengaruh kelompok Hizbullah di lingkup eksekutif Lebanon, setidaknya untuk sementara waktu.

Karena meski Hizbullah banyak dikecam dalam aksi demonstrasi massal di Beirut, amarah warga lebih diarahkan kepada kaum elit Lebanon yang diyakini korup dan abai. Pemerintah sebelumnya dikabarkansudah mendapat peringatan perihal bahan kimia berbahayayang disimpan di gudang pelabuhan.

Suksesi di Beirut menjadi bola liar bagi Iran yang kini kehilangan koneksi politik pada Hassan Diab. Teheran adalah salah satu dari sedikit alamat yang selama ini disambangi Diab untuk mencari bantuan. Sejak kejatuhan PM Saad Hariri, Lebanon dikucilkan oleh negara-negara di kawasan teluk.

Solidaritas dari Iran

Di Teheran, mahasiswa anggota milisi Basij berkumpul di depan gedung Kedutaan Besar Lebanon untuk menyatakan solidaritas pasca ledakan. Mereka menyalakan lilin, sembari berdoa dan mengibarkan bendera Lebanon dan Hizbullah.

Tidak sedikit warga Iran yang menyuarakan simpati di media sosial, antara lain dengan mengunggah gambar Beirut pasca ledakan yang dibubuhi penggalan puisi Nizar Kabbani, seorang penyair Suriah yang populer di Iran.

Dalam sebuah aksi lain, pencahayaan Menara Azadi yang merupakan simbol Teheran, tampil dalam balutan bendera Lebanon, yakni merah, putih dan hijau.

Pemimpin spiritual Iran, Ayatollah Ali Khamenei, meminta warga Lebanon agar “bersabar.” Dia berjanji Iran akan membantu, terutama ketika sekutu dekatnya itu berhadapan dengan “tragedi yang menyakitkan.”

Sementara itu Menteri Luar Negeri Mohammad Javad Zarif juga tak ketinggalan menjanjikan dukungan penuh bagi warga Lebanon. “Seperti biasanya, Iran sepenuhnya siap memberikan bantuan yang diperlukan. Tetaplah kuat, Lebanon!,” tulisnya pasca ledakan di Beirut lewat akun Twitter.

Pertaruhan status quo

Pasca perang saudara 1975-1989, politik Lebanon banyak dikuasai milisi-milisi bersenjata yang menang perang. Kelompok Syiah misalnya berhasil memperkuat posisi ketua parlemen yang menjadi jatahnya sesuai asas konfesionalisme yang membagi pemerintahan berdasarkan kelompok agama.
Maka ketika Presiden Perancis Emmanuel Macron mendesak reformasi menyeluruh di Lebanon, dia ikut mengundang kritik dari Iran.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2020 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas