Tribun

Krisis Iklim Diprediksi Membuat 1,2 Miliar Orang di Dunia Kehilangan Tempat Tinggal pada Tahun 2050

Krisis iklim diprediksi membuat 1,2 miliar orang di dunia kehilangan tempat tinggal pada tahun 2050.

Penulis: Citra Agusta Putri Anastasia
Editor: Garudea Prabawati
Krisis Iklim Diprediksi Membuat 1,2 Miliar Orang di Dunia Kehilangan Tempat Tinggal pada Tahun 2050
Pixbay
Ilustrasi dampak perubahan iklim. 

TRIBUNNEWS.COM - Organisasi riset global bernama Institute for Economics & Peace (IEP) merilis laporan tentang daftar ancaman ekologis pada Rabu (9/9/2020) lalu.

Laporan bertajuk "Ecological Threat Register 2020, Understanding Ecological Threats, Resilience, and Peace" tersebut mengungkapkan, krisis global dapat mengakibatkan lebih dari satu miliar orang mengungsi dalam 30 tahun ke depan.

Bencana ekologis mendorong migrasi massal dan konflik bersenjata yang lebih besar.

Dilansir CNN, laporan itu memproyeksikan 1,2 miliar orang di seluruh dunia dapat mengungsi pada tahun 2050.

Laporan menyebut, tidak ada negara yang dapat lepas dari dampak krisis iklim.

Negara dengan populasi termiskin dan paling rentan di dunia yang akan paling terkena dampaknya.

"Ancaman ekologi dan perubahan iklim menimbulkan tantangan serius bagi pembangunan dan perdamaian global."

"Negara-negara yang paling tidak tahan banting, ketika dihadapkan pada kerusakan ekologi, lebih mungkin mengalami kerusuhan sipil, ketidakstabilan politik, fragmentasi sosial, dan keruntuhan ekonomi," tulis laporan.

Baca: Populasi Satwa Liar di Dunia Anjlok Hampir 70 Persen dalam Waktu Kurang dari 50 Tahun

Baca: Selain Fokus Pengendalian Dampak Ekonomi, Indonesia Waspadai Krisis Akibat Perubahan Iklim

Wanita etnis Rohingnya tertidur lelap usai terdampar di pantai Ujong Blang, Lhokseumawe. Kini Mereka telah direlokasi ke BLK, Kandang, Lhokseumawe, Senin (7/9/2020).
Wanita etnis Rohingnya tertidur lelap usai terdampar di pantai Ujong Blang, Lhokseumawe. Kini Mereka telah direlokasi ke BLK, Kandang, Lhokseumawe, Senin (7/9/2020). (Serambinews.com)

Laporan tersebut mengambil data dari organisasi internasional, seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), Pusat Pemantauan Perpindahan Internal (IDMC), Organisasi Pangan dan Pertanian (FAO), dan penelitian IEP sebelumnya tentang tingkat ketahanan negara.

Dengan menggunakan angka-angka ini, IEP kemudian menghitung ancaman relatif dari pertumbuhan populasi, tekanan air, dan kerawanan pangan.

© 2022 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas