Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Inggris, Prancis dan Jerman Rencanakan Sanksi untuk Rusia atas Keracunan Alexei Navalny

Inggris, Prancis dan Jerman merencanakan sanksi untuk Rusia atas insiden keracunan tokoh oposisi Rusia Alexei Navalny.

Tayang:
Tribun X Baca tanpa iklan
zoom-in Inggris, Prancis dan Jerman Rencanakan Sanksi untuk Rusia atas Keracunan Alexei Navalny
IG Alexei Navalny
Kritikus Presiden Rusia Vladimir Putin, Alexei Navalny 

TRIBUNNEWS.COM - Inggris, Prancis dan Jerman merencanakan sanksi untuk Rusia atas insiden keracunan Alexei Navalny.

Pernyataan ini disampaikan tiga negara tersebut setelah pengawas senjata kimia internasional mengonfirmasi bahwa pemimpin oposisi Rusia Alexei Navalny diracuni dengan Novichok.

CNN melaporkan, Navalnya, kritikus Kremlin itu jatuh sakit dalam penerbangan dari kota Tomks di Siberia menuju Moskow pada 20 Agustus 2020.

Navalny kemudian dievakuasi ke Jerman dan mendapat perawatan di Rumah Sakit Charité, Berlin.

Pada akhir September 2020, Navalny keluar dari rumah sakit setelah menunjukkan perkembangan yang berarti. 

Baca: Alexei Navalny Salahkan Intelijen Rusia atas Serangan Racun Novichok

Baca: Setelah Diracuni Novichok, Alexei Navalny Hadapi Masalah: Rekening Bank Dibekukan & Apartemen Disita

Kritikus Presiden Rusia Vladimir Putin, Alexei Navalny
Kritikus Presiden Rusia Vladimir Putin, Alexei Navalny (IG Alexei Navalny)

Lebih lanjut, Organisasi Anti Senjata Kimia (Organisation for the Prohibition of Chemical Weapons, OPCW), Selasa kemarin mengonfirmasi bahwa sampel darah dan urin yang diambil dari Navalny menunjukkan adanya Novichok.

Novichok merupakan racun saraf yang juga digunakan dalam serangan Maret 2018 terhadap mantan mata-mata Rusia Sergei Skripal di kota Salisbury, Inggris.

Rekomendasi Untuk Anda

Para Menteri Luar negeri Prancis dan Jerman merilis pernyataan bersama pada Rabu, yang mengatakan mereka mengajukan proposal kepada mitra Eropa yang menargetkan "individu yang dianggap bertanggung jawab atas kejahatan ini dan pelanggaran norma internasional,"

Termasuk pejabat Rusia dan entitas yang terlibat dalam senjata kimia Novichok negara itu.

"Sebuah percobaan pembunuhan telah dilakukan di tanah Rusia, terhadap tokoh oposisi Rusia, menggunakan zat saraf tingkat militer yang dikembangkan oleh Rusia," kata pernyataan itu.

"Kami percaya bahwa tidak ada penjelasan yang dapat dipercaya untuk keracunan Navalny selain keterlibatan dan tanggung jawab Rusia," kata pasangan itu dalam sebuah pernyataan.

Baca: UPDATE Alexei Navalny: Tuntut Rusia Kembalikan Pakaian hingga Permintaan Maaf Ilmuwan Novichok

Baca: Staf Alexei Navalny: Jejak Racun Novichok Ditemukan dari Botol Air Kamar Hotel di Siberia

Alexei Navalny bersama keluarga di RS Charité, Berlin
Alexei Navalny bersama keluarga di RS Charité, Berlin (IG Alexei Navalny)

Menteri Luar Negeri Inggris Dominic Raab mengatakan Inggris akan bekerja dengan mitra internasionalnya untuk menerapkan sanksi tersebut.

"Inggris berdiri berdampingan dengan mitra Jerman dan Prancis kami dalam tanggapan kami terhadap keracunan yang menjijikkan terhadap Alexey Navalny," katanya dalam sebuah pernyataan Rabu malam.

Sementara itu, menurut kantor berita negara TASS, Kremlin membantah keras keterlibatan dalam kasus keracunan Navalny, dan menawarkan untuk bekerja sama dengan Jerman dalam penyelidikan masalah tersebut.

Berdasarkan laporkan TASS sebelumnya, Sergei Naryshkin, Direktur Badan Intelijen Luar Negeri mengatakan, Rusia telah "melenyapkan" semua agen perang, termasuk Novichok.

Baca: Kisah Alexey Navalny, Racun Novichok, dan Proyek Gas Nord Stream 2

Alexei Navalny bersama sang Istri Yulia Navalnaya di Rumah Sakit Charite, Jerman
Alexei Navalny bersama sang Istri Yulia Navalnaya di Rumah Sakit Charite, Jerman (IG Alexei Navalny)

 Baca: Alexei Navalny Diduga Diracun dengan Racun Saraf Novichok, Apa Itu?

"Untuk spekulasi Rusia masih memproduksi atau menyimpan cadangan lama agen perang kimia adalah disinformasi, tentu saja," kata Naryshkin.

Saat ditanya tentang temuan OPCW, Juru bicara Kremlin Dmitry Peskov mengatakan kepada wartawan, "kami belum memiliki informasi."

(Tribunnews.com/Andari Wulan Nugrahani)

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas