Tribun

Krisis Myanmar

Ambil Alih Kekuasaan, Militer Myanmar Copot 24 Menteri dan Tunjuk 11 Pengganti

Militer Myanmar merebut kekuasaan pada Senin (1/2/2021) dalam kudeta terhadap pemerintahan sah yang dipilih secara demokratis Aung San Suu Kyi, yang

Penulis: Srihandriatmo Malau
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Ambil Alih Kekuasaan, Militer Myanmar Copot 24 Menteri dan Tunjuk 11 Pengganti
Lillian SUWANRUMPHA / AFP
Para migran Myanmar memegang potret Aung San Suu Kyi saat mereka mengambil bagian dalam demonstrasi di luar kedutaan Myanmar di Bangkok, Thailand pada 1 Februari 2021, setelah militer Myanmar menahan pemimpin de facto negara itu Aung San Suu Kyi dan presiden negara itu dalam sebuah kudeta. 

TRIBUNNEWS.COM, NAYPYDAW — Militer Myanmar merebut kekuasaan pada Senin (1/2/2021) dalam kudeta terhadap pemerintahan sah yang dipilih secara demokratis Aung San Suu Kyi, yang ditahan bersama dengan para pemimpin sipil lainnya dalam penggerebekan dini hari.

Militer mengatakan penahanan Suu Kyi  sebagai tanggapan atas dugaan kecurangan pemilu dan  menyerahkan kekuasaan kepada Panglima Angkatan Bersenjata yang mau pensiun  Jenderal Min Aung Hlaing.

Militer pun mengumumkan keadaan darurat selama setahun di negara Asia Tenggara itu.

Merangkum pertemuan junta, militer mengatakan Min Aung Hlaing, yang telah mendekati masa pensiun, telah berjanji akan mempraktikkan "sistem demokrasi multipartai yang disiplin yang tulus."

Dia menjanjikan pemilu yang bebas dan adil serta serah terima kekuasaan kepada partai pemenang, katanya, tanpa memberikan jangka waktu.

Junta kemudian mencopot 24 menteri dan menunjuk 11 pengganti untuk menjabat di sejumlah kementerian termasuk keuangan, pertahanan, urusan luar negeri dan dalam negeri.

Suu Kyi, Presiden Win Myint dan para pemimpin para pemimpin senior partai Liga Demokrasi (NLD) ditangkap pada dini hari, Senin (1/2/2021), kata juru bicara NLD Myo Nyunt kepada Reuters melalui telepon.

Kepala hak asasi manusia PBB Michelle Bachelet mengatakan setidaknya 45 orang telah ditahan militer Myanmar.

Sebuah video yang diposting ke Facebook menunjukkan penangkapan anggota parlemen regional Pa Pa Han. Suaminya memohon kepada orang-orang dengan pakaian militer berdiri di luar gerbang. Seorang anak kecil dapat terlihat menempel di dadanya dan meratap.

Pasukan dan polisi anti huru-hara berdiri di Yangon di mana penduduk berbondong-bondong  ke pasar untuk menimbun persediaan dan yang lain berbaris di ATM untuk menarik uang tunai. Bank menangguhkan layanan tetapi mengatakan mereka akan membuka kembali mulai Selasa (2/2/2021).

Penahanan itu muncul setelah berhari-hari ketegangan antara pemerintah sipil dan militer terjadi setelah pemilu terbaru, di mana partai Suu Kyi memenangkan 83 persen suara.

Baca juga: Presiden AS Biden Ancam Beri Sanksi Baru Setelah Kudeta Myanmar dan Penahanan Aung San Suu Kyi

 Pengambilalihan tentara akan menempatkan Myanmar "kembali di bawah kediktatoran", kata pernyataan yang telah ditulis sebelumnya di Facebook seperti mengutip Suu Kyi.

"Saya mendesak orang-orang untuk tidak menerima ini, untuk menanggapi dan dengan sepenuh hati untuk memprotes kudeta oleh militer," katanya.

Reuters tidak dapat menghubungi pejabat NLD mana pun untuk mengkonfirmasi kebenaran pernyataan tersebut.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas