Tribun

Krisis Myanmar

Kecam Kudeta Militer Myanmar, Joe Biden: AS akan Bela Demokrasi di Manapun Ia Diserang

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengancam sanksi baru kepada Myanmar setelah kudeta militer. Kudeta tersebut telah dikutuk secara internasional.

Penulis: Faryyanida Putwiliani
Editor: Pravitri Retno Widyastuti
zoom-in Kecam Kudeta Militer Myanmar, Joe Biden: AS akan Bela Demokrasi di Manapun Ia Diserang
Associated Press
Presiden AS Joe Biden menyampaikan sambutan tentang perawatan kesehatan, di Ruang Oval Gedung Putih, Kamis, 28 Januari 2021, di Washington. 

TRIBUNNEWS.COM - Presiden Amerika Serikat, Joe Biden, mengancam sanksi baru kepada Myanmar setelah adanya kudeta militer dan penangkapan pemerintah sipil, termasuk Aung San Suu Kyi.

Dikutip dari ap.news.com, Biden menyerang tentara negara Myanmar dan menyebutnya sebagai serangan langsung terhadap transisi negara menuju demokrasi dan supremasi hukum.

Kudeta di Myanmar, atau yang dikenal dengan Burma, juga telah dikutuk secara internasional.

Biden mengatakan Amerika Serikat mencabut sanksi terhadap Burma selama dekade terakhir berdasarkan kemajuan menuju demokrasi.

“Pembalikan kemajuan itu akan membutuhkan peninjauan segera terhadap hukum dan otoritas sanksi kami, diikuti dengan tindakan yang sesuai."

"Amerika Serikat akan membela demokrasi di manapun ia diserang," kata Biden dalam sebuah pernyataan.

Baca juga: Kondisi Myanmar Sesaat setelah Aung San Suu Kyi Ditangkap, Sepi dan Mobil Militer Berkeliaran

Baca juga: Kilas Balik Krisis Myanmar, Ini Motif Jenderal Min Aung Hlaing Pimpin Kudeta Militer

Myanmar telah menjadi proyek promosi demokrasi Barat selama beberapa dekade dan telah menjadi simbol keberhasilan.

Namun selama beberapa tahun terakhir, ada kekhawatiran yang berkembang tentang kemundurannya menjadi otoritarianisme.

Kekecewaan terhadap Suu Kyi, mantan pemimpin oposisi, telah meningkat, terutama atas penolakannya untuk mengekang penindasan terhadap Muslim Rohingya.

Myanmar telah bangkit beberapa dekade dari pemerintahan militer yang ketat dan isolasi internasional yang dimulai pada 1962.

Peristiwa Senin (1/2/2021) kemarin, merupakan kejatuhan yang mengejutkan dari kekuasaan Suu Kyi, yang memenangkan Hadiah Nobel Perdamaian pada 1991 atas usahanya mempromosikan demokrasi dan hak asasi manusia.

Baca juga: Imbauan KBRI Yangon untuk WNI di Myanmar Setelah Aksi Kudeta Militer

Baca juga: Myanmar Dikudeta Militer: Warga Timbun Makanan, Atribut NLD Diturunkan, dan Sinyal Internet Putus

Kronologi Kudeta Militer

Diberitakan Tribunnews sebelumnya, Aung San Suu Kyi ditangkap bersama Presiden Win Myint, serta tokoh-tokoh senior partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD).

Penangkapan dilakukan karena adanya keluhan atas dugaan pelanggaran dalam pemilihan umum yang diselenggarakan pada November 2020 kemarin.

© 2023 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas