Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Kematian Demonstran Sudutkan Militer Myanmar

Kematian seorang demonstran semakin menyulitkan posisi Tatmadaw, ketika negara lain ikut bergabung menjatuhkan sanksi. Pemerintah…

Mya Thwate Khaing baru menginjak usia 20 tahun ketika dinyatakan meninggal dunia pada Jumat (19/02), setelah dirawat selama hampir dua pekan. Dia ditembak di kepala saat aksi demonstrasi yang berubah rusuh di Naypyidaw pada 9 Februari silam.

Saat itu aparat keamanan mengklaim hanya menggunakan peluru karet. Namun dokter di rumah sakit mengatakan setidaknya dua demonstran lain ditembak amunisi tajam, lapor kantor berita AFP.

"Karena ini adalah ketidakadilan, kami akan tetap menyimpan catatan kematiannya, kelak kami akan mencari keadilan,” kata doktor yang menolak disebut namanya.

Sejak kudeta pada 1 Februari lalu, militer Myanmar sejauh ini telah menangkap 520 orang terkait aksi demonstrasi menentang junta. Aparat dikabarkan menggunakan kendaraan lapis baja untuk menghadang demonstran.

Eskalasi di Naypyidaw kini menjalar ke lembaga dan perusahaan negara, di mana pegawai negeri melakukan aksi mogok massal. Saat ini sepertiga PNS di Myanmar tercatat menolak bekerja sebagai ungkapan protes.

Tom Andrews, pakar HAM untuk PBB, menilai pembangkangan sipil di Myanmar turut melumpuhkan kehidupan ekonomi. Hal ini menurutnya harus ditanggapi oleh dunia internasional dengan "menjatuhkan sanksi ekonomi atau tekanan diplomatik dengan fokus dan terarah,” kata dia.

Hujan sanksi bagi junta

Sementara itu pemerintah Inggris mengumumkan sanksi terhadap tiga jendral Tatmadaw atas tuduhan "pelanggaran HAM berat,” terhadap warga sipil Myanmar. Selain pembekuan aset dan larangan masuk, Inggris juga mengkaji pemutusan hubungan dagang dengan perusahaan militer.

Adapun Kanada menghukum sembilan perwira tinggi Myanmar dan menuding junta melakukan "kampanye represif yang sistematis melalui langkah-langkah legislatif terpadu dan penggunaan tindak kekerasan.”

"Kanada berdiri bersama warga Myanmar dalam perjuangannya demi demokrasi dan hak asasi,” kata Menteri Luar Negeri Marc Garneau.

Halaman
12
Ikuti kami di
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas