Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
Deutsche Welle

Kudeta Militer Menyatukan Etnis Minoritas dan Gerakan Pro-Demokrasi di Myanmar

Pegawai negeri, tenaga kesehatan dan pekerja transportasi di Myanmar lancarkan aksi mogok. Sementara aksi protes etnis minoritas juga…

Tiga minggu setelah kudeta militer Myanmar, protes di kota-kota di seluruh negeri berkembang lebih besar dari sebelumnya dan telah menyebar ke ibu kota provinsi-provinsi dengan populasi etnis minoritas yang signifikan.

Ribuan pengunjuk rasa sambil membawa bendera turun ke jalan-jalan seperti di Lashio di negara bagian Shan, Myitkyina di negara bagian Kachin, ataupun di Hpa-An di negara bagian Kayin.

Pemimpin kelompok dari beberapa etnis di Myanmar yang mendukung perlawanan terhadap kepemimpinan militer juga mendukung gerakan pemberontakan sipil, di mana pegawai negeri, tenaga kesehatan, dan pekerja transportasi di seluruh negeri melancarkan aksi mogok.

Siapakah etnis minoritas Myanmar?

Myanmar adalah negara multietnis, di mana populasi etnis minoritas di sana sepertiga dari 54 juta penduduk negara itu.

Mereka hidup di daerah perbatasan yang membentuk tapal kuda di sekitar persawahan subur di jantung Myanmar, yang didominasi oleh mayoritas etnis Bamar. Selama beberapa dekade, beberapa dari etnis ini telah memperjuangkan lebih banyak otonomi.

Kelompok paramiliter etnis Myanmar termasuk Serikat Nasional Karen (KNU) yang berpengaruh, Tentara Negara Bagian Wa Bersatu yang berkekuatan 30.000 orang, dan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA).

Setidaknya ada 21 organisasi kelompok paramiliter etnis Myanmar seperti Serikat Nasional Karen (KNU), Tentara Negara Bagian Wa Bersatu yang berkekuatan 30.000 orang, dan Tentara Kemerdekaan Kachin (KIA). Pasukan minoritas ini tidak hanya berperang melawan pemerintah pusat, tetapi dalam beberapa kasus melawan satu sama lain.

Perselisihan mengenai partisipasi politik dan ekonomi dari kelompok etnis yang berbeda telah menjadi ciri Myanmar sejak merdeka pada tahun 1948. Hal ini menyebabkan perang saudara yang terus berkobar selama 70 tahun.

Menurut sebuah studi Asia Foundation, sekitar satu dari empat orang Myanmar terkena dampak konflik kekerasan pada tahun 2017.

Pasukan Myanmar khawatir akan aliansi

Halaman
1234
Ikuti kami di
Sumber: Deutsche Welle
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas