Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version
BBC

Kudeta Myanmar: Membandingkan taktik pembangkangan sipil ala Myanmar dengan demo 1998 di Indonesia

Sama dengan protes massal menuntut reformasi di Indonesia tahun 1998, unjuk rasa menentang kudeta Myanmar diikuti oleh banyak unsur masyarakat

Gelombang protes menentang kudeta militer di Myanmar tidak menunjukkan tanda-tanda akan segera surut, bahkan bertambah besar. Hal ini kembali mengingatkan publik akan peristiwa serupa di Indonesia pada 1998 silam.

Inilah aksi terbesar di Myanmar sejak Revolusi Saffron menentang rezim militer pada 2007 yang dipimpin barisan biksu Buddha berkain oranye.

Protes massal, ditandai dengan gerakan pembangkangan sipil, belakangan semakin dihadapi dengan unjuk kekuatan oleh aparat keamanan. Hingga Rabu (03/03), sebanyak 18 orang meninggal dunia sejak pergolakan menentang kudeta pada 1 Februari lalu.

Fakta itulah yang membuat salah seorang penggerak aksi, Khin Lay, semakin resah.

"Penumpasan dan penindasan terhadap pengunjuk rasa oleh polisi dan tentara terhadap pemrotes semakin brutal. Di Yangon dan Mandalay, mereka menembaki pengunjuk rasa yang menggelar aksi secara damai, tanpa kekerasan.

"Mereka juga semakin banyak menciduk warga. Itulah salah satu ketakutan saya yang utama," ujar Khin Lay yang tinggal di kota terbesar, Yangon.

Tindakan tersebut sejalan dengan peringatan pemerintahan militer pimpinan Jenderal Senior Min Aung Hlaing bahwa pihak berwenang tak akan segan-segan mengambil tindakan tegas guna mengendalikan unjuk rasa jika terus berlanjut.

Lebih lanjut, dalam pidato yang dibacakan dalam siaran televisi negara pada Senin (01/03), Panglima Angkatan Bersenjata Min Aung Hlaing mengatakan pemimpin protes dan "penghasut" akan dihukum.

Khin Lay adalah salah seorang aktivis yang kerap berorasi di tengah massa dan juga di depan perwakilan sejumlah negara di Yangon, termasuk Kedutaan Besar Indonesia. Pesannya jelas, "Tolong jangan berbicara dengan pihak militer dan hormatilah suara kami, rakyat Myanmar."

Min Aung Hlaing
Getty Images
Pemimpin kudeta Jenderal Senior Min Aung Hlaing telah mewanti-wanti pengunjuk rasa bahwa pihak berwenang akan mengambil tindakan tegas jika demonstrasi berlanjut.

Suara yang dimaksud ibu berusia 50 tahun itu adalah hasil pemilu pada 8 November 2020 yang kembali dimenangkan mutlak oleh partai Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD) pimpinan Aung San Suu Kyi.

Halaman
1234
Ikuti kami di
Sumber: BBC Indonesia
BBC
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas