Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Penanganan Covid

Mantan Wali Kota Osaka Sindir Cara Puskesmas Jepang Menangani Kasus Covid-19

Sindiran dengan cara Jepang menyatakan "masyarakat biasa yang bodoh sekali pun" merupakan kebalikan cara menunjuk orang lain (dalam hal ini Puskesmas)

Mantan Wali Kota Osaka Sindir Cara Puskesmas Jepang Menangani Kasus Covid-19
Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo
Mantan Wali Kota Osaka yang juga pengacara, Toru Hashimoto. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Mantan wali kota Osaka yang juga Pengacara Jepang, Toru Hashimoto menyindir cara Puskesmas Jepang dalam melakukan pengumuman penyebaran infeksi ke masyarakat.

"Apa sih yang dilakukan Puskesmas Jepang lakukan selama setahun ini? Data kumpulkan, wawancara dengan orang tertular, semuanya dalam bentuk manual kertas," kata Hashimoto, Kamis (22/4/2021) di Fuji TV.

"Kan sebetulnya bisa dimasukkan ke program lalu dilakukan oleh Artificial Intelligent (AI) maka dengan mudah data bisa diketahui di mana penyebab munculnya infeksi bisa diantisipasi dengan baik dan cepat. Orang biasa yang bodoh sekali pun bisa katakan hal itu sebenarnya bisa dilakukan dengan mudah kalau pakai AI tapi tak dilakukan. Yang dilakukan pakai kertas mereka selama ini," ujarnya.

Sindiran dengan cara Jepang menyatakan "masyarakat biasa yang bodoh sekali pun" merupakan kebalikan cara menunjuk orang lain (dalam hal ini Puskesmas Jepang) yang mau dikatakan "bodoh".

Baca juga: Besok PM Jepang Umumkan PSBB di Beberapa Kota, Diberlakukan Mulai Senin 26 April 2021

"Memang benar, kalau data yang ada sudah dikumpulkan itu sebenarnya bisa dipilah dengan mudah oleh AI sehingga dengan mudah sebenarnya bisa menjejaki sumber infeksi karena mereka telah mewawancarai langsung berbagai orang yang terkena infeksi corona," papar Profesor Yoshihito Niki, Wakil Direktur Pusat Pernafasan, Rumah Sakit Kurashiki Daiichi, Profesor Penyakit Menular Klinis, Sekolah Kedokteran Universitas Showa Jepang yang membenarkan ucapan Hashimoto tersebut.

Ketidakmampuan Puskesmas Jepang memilah data dan tak bisa menemukan sumber infeksi dianggap para ahli membuat penyebaran infeksi corona semakin merajalela.

Grafik pergerakan infeksi di Tokyo sampai dengan Rabu (21/4/2021) yang bertambah 843 orang per hari.
Grafik pergerakan infeksi di Tokyo sampai dengan Rabu (21/4/2021) yang bertambah 843 orang per hari. (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Apalagi dengan munculnya mutan baru virus corona di Jepang membuat semakin cepat lagi penyebaran corona.

"Mutan baru corona saat ini memang semakin cepat lagi membuat penyebaran dan peningkatan jumlah terinfeksi corona karena kekuatan mereka bisa mencapai 1,8 kali dari virus corona konvensional. Oleh karena itu selain harus segera menemukan sumber asal juga harus menutup tempat-tempat penyebaran corona seperti lokasi minum malam hari," tambah Niki.

Sementara itu telah terbit buku baru "Rahasia Ninja di Jepang" berisi kehidupan nyata ninja asli di Jepang yang penuh misteri, mistik, ilmu beladiri luar biasa dan tak disangka adanya penguasaan ilmu hitam juga. informasi lebih lanjut ke: info@ninjaindonesia.com

Ikuti kami di
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas