Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Virus Corona

Di India, RT-PCR Tidak Diperlukan Untuk Perjalanan Antar Negar Bagian

Ini dilakukan untuk mengurangi beban laboratorium terkait pengujian virus corona (Covid-19) selama gelombang kedua pandemi di negara itu.

Di India, RT-PCR Tidak Diperlukan Untuk Perjalanan Antar Negar Bagian
Tribunnews.com
Ilustrasi rapid antigen 

Laporan Wartawan Tribunnews, Fitri Wulandari

TRIBUNNEWS.COM, NEW DELHI - Dewan Riset Medis India (ICMR) merekomendasikan bahwa kebutuhan untuk melakukan tes Reverse Transcriptio-Polymerase Chain Reaction (RT-PCR) pada individu yang sehat dan hendak melakukan perjalanan domestik antar negara bagian dapat dihapus sepenuhnya.

Ini dilakukan untuk mengurangi beban laboratorium terkait pengujian virus corona (Covid-19) selama gelombang kedua pandemi di negara itu.

Baca juga: Satgas Perketat Aturan Perjalanan Mulai 22 April - 24 Mei: Wajib Tunjukan PCR/Swab Antigen 1×24 Jam

Dikutip dari laman The Times of India, Rabu (5/5/2021), sebagai bagian dari langkah untuk mengoptimalkan pengujian RT-PCR, penasehat ICMR menjelaskan bahwa pengujian tidak boleh diulangi pada tiap individu yang telah satu kali dites positif, baik melalui Rapid Antigen Test (RAT) maupun RT-PCR.

Selain itu juga tidak diperlukan pengujian untuk individu yang telah pulih dari Covid-19 pada saat keluar dari rumah sakit.

Baca juga: Soal Tes Wawasan Kebangsaan di KPK, Pimpinan Komisi III: KPK hanya Mematuhi Amanat UU

Langkah ini menyesuaikan dengan kebijakan dari Kementerian Kesehatan dan Kesejahteraan Keluarga India.

Perlu diketahui, saat ini India tengah mengalami gelombang infeksi kedua Covid-19 karena terjadi lonjakan kasus yang dipicu pelonggaran protokol kesehatan, adanya festival publik secara besar-besaran dan kampanye politik.

Baca juga: Jelang Pelantikan Pengurus Pusat PBSI Gelar Test PCR Satu Hari

Lonjakan angka positif Covid-19 ini kemudian membebani seluruh rumah sakit di negara itu.

Tindakan seperti penundaan dalam pengujian, diagnosis maupun pengobatan, serta terbatasnya tempat perawatan pasien kritis dan obat-obatan esensial termasuk oksigen, telah mengakibatkan lonjakan angka kematian.

Negara di kawasan Asia Selatan itu sejauh ini telah melaporkan lebih dari 222.000 kematian akibat virus tersebut.

Namun para ahli mengatakan bahwa masih banyak jumlah kematian akibat Covid-19 di India yang belum dilaporkan.

Fenomena ini pun membuat antrean yang sangat panjang di krematorium, tumpukan kayu pemakaman massal, bahkan kota-kota kehabisan ruang untuk menguburkan atau mengkremasi orang yang mati.

Berita sebelumnya: Wajah CantikEva Seketika Terbakar Usai Disiram Bensin dan Disulut Api, Mengebul Saat Dipadamkan

Ikuti kami di
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Hendra Gunawan
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas