Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Kirim Sampel Uji PCR Lewat Kantor Pos Jepang Sangat Ketat, Jadi Koleksi Bagi Filatelis

Kantorpos Jepang atau Japan Post telah memutuskan untuk tidak menerima surat mulai 10 Mei 2021 apabila  keamanan tidak dapat dijamin

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Kirim Sampel Uji PCR Lewat Kantor Pos Jepang Sangat Ketat, Jadi Koleksi Bagi Filatelis
Foto: Richard Susilo
Kantorpos di Tokyo Jepang 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYOKantor Pos Jepang atau Japan Post telah memutuskan untuk tidak menerima surat mulai 10 Mei 2021 apabila  keamanan tidak dapat dijamin dengan mengikuti prosedur yang telah ditentukan dan  tidak mengikuti tata cara yang telah ditentukan, seperti ketika sampel uji PCR dimasukkan ke dalam amplop.

"Kita tidak akan terima kiriman untuk tes PCR yang asal-asalan. Semua ada prosedur cara pengiriman dan harus diikuti dengan baik demi keamanan bersama," papar Kubota seorang pejabat kantorpos di Tokyo kepada Tribunnews.com Rabu (5/5/2021).

Mengenai pengiriman sampel uji PCR, Japan Post melipatgandakan kontainer dalam kotak. Selain melakukan "inaktivasi" untuk mencegah virus menginfeksi kepada petugas pos dan masyarakat, pengguna saat meletakkan sampel di dalam wadah diharuskan membungkusnya dengan sangat rapat (vakum).

Namun, karena jumlah sampel yang dikirim melalui pos meningkat, ada kasus di mana sampel dimasukkan ke dalam amplop dan dibuang beberapa materi, tidak memgikuti  petunjuk vendor.

Karena alasan ini, Japan Post telah memutuskan untuk tidak menerima surat jika prosedur yang ditentukan tidak diikuti dari tanggal 10 bulan ini, dengan mengatakan bahwa keamanan tidak dapat dijamin.

Spesimen yang tidak diterima akan dikembalikan ke pengirim, dan Japan Post mengatakan, "Saya ingin Anda memahami langkah-langkah yang diperlukan untuk memastikan keamanan pengguna dan juga bagi karyawan pos." 

Rekomendasi Untuk Anda

Tes PCR bisa dilakukan lewat pos bagi banyak vendor yang telah menawarkannya. Namun belakangan ini banyak yang asal-asalan pengguna melakukannya tidak mengikuti ketentuan resmi yang ada, sehingga ditakutkan corona malah menyebar melalui kantorpos.

Dengan ketentuan pos pengiriman khusus untuk sampel tes PCR, muncul satu kategori pos "tes pcr" dengan pengiriman seharusnya menggunakan tata cara khusus, yang bisa menjadi koleksi bagi filatelis (para pengumpul prangko).

Koleksi tersebut akan menjadi sangat menarik nantinya sekaligus juga memiliki resiko tinggi karena pada awalnya memiliki bahan tes untuk tes PCR yang siapa tahu dari orang (pengirim) yang memiliki positif virus corona.

Satu perlakuan bagi penggemar pengumpul benda filateli pun perlu dilakukan apabila ingin memngoleksi benda filateli pos khusus pengiriman tes pcr tersbeut, misalnya dengan mem vakum semua benda filateli itu dengan plastik transparan yang kuat agar (seandainya) ada virus sekali pun, tetap terlokalisasi.

Namun di lain pihak dengan vakum tertutup rapat dan mati benda filateli itu, berakibat dalam waktu lama benda filateli itu akan mudah rapuh menjadi bubur kertas dan hancur.

Mengapa? Karena kertas harus berasimilasi dengan udara luar tak bisa di vakum begitu saja selamanya, tidak diangin anginkan.

Di lain pihak memang bila bisa menciptakan koleksi "tes pcr" yang aman tersbeut, menjadi satu koleksi baru benda filateli yang akan sangat menarik dan mungkin akan berharga mahal, asalkan terlokalisasi (terjaga keamanannya) dengan baik.

Sementara itu upaya belajar bahasa Jepang yang lebih efektif dengan melalui zoom terus dilakukan bagi warga Indonesia secara aktif dengan target belajar ke sekolah di Jepang nantinya. Info lengkap silakan email: info@sekolah.biz dengan subject: Belajar bahasa Jepang.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas