Akses berita lokal lebih cepat dan mudah melalui aplikasi TRIBUNnews
X
Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
No Thumbnail
Desktop Version

Di Jepang Smartphone Lebih Penting daripada KTP

Begitu sebuah smartphone menjadi tidak dapat digunakan, bahkan akan sulit untuk memiliki smartphone baru atas nama anda sendiri.

Di Jepang Smartphone Lebih Penting daripada KTP
Foto Richard Susilo
Homeless (tunawisma) Jepang di tengah kota Tokyo di bawah Jembatan kereta api dengan kardus-kardus tempat tidurnya. 

Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang

TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Sebuah ponsel atau smartphone kini menjadi sesuatu yang penting dan sangat berharga bagi orang Jepang. Bahkan bisa dikatakan ponsel lebih penting dibandingkan dengan KTP.

Seperti diketahui orang Jepang tak punya KTP, tetapi menggunakan kartu asuransi, paspor atau surat domisili sebagai identitasnya.

"Jika Anda tidak dapat membayar untuk ponsel cerdas dan berhenti langganan, Anda terjebak dalam hidup (artinya tidak ada yang bisa dilakukan). Ponsel jadi lebih penting dari identitas diri lainnya," ungkap Daishiro Sasaki dari Tsukuroi Tokyo Fund, baru-baru ini.

Tsukuroi Tokyo Fund adalah sebuah yayasan yang banyak membantu kalangan miskin di Jepang, termasuk meminjamkan ponsel kepada mereka supaya bisa tetap hidup.

"Tanpa smartphone, sulit mendapatkan pekerjaan atau menyewa apartemen. Ini seperti kehilangan kehidupan sosial," ujarnya.

Mengapa hidup menjadi lebih sulit saat smartphone tidak dapat digunakan?

"Kenyataannya adalah Anda tidak dapat menyewa properti tanpa smartphone. Mereka yang tidak memiliki akan ditolak. Kenyataan di masyarakat adalah smartphone diperlakukan dengan cara yang sama seperti KTP," kata seorang pria dari agen real estate di Adachi-ku Tokyo, yang sering membimbing orang untuk perlindungan mata pencaharian.

Lokasi (tempat tidur) seorang tunawisma di Jepang usia 69 tahun yang harus masuk rumah sakit karena kepalanya dibenturkan ke penyangga jalan (di kiri tempat tidurnya) oleh tersangka Kenji Hoshino (58).
Lokasi (tempat tidur) seorang tunawisma di Jepang usia 69 tahun yang harus masuk rumah sakit karena kepalanya dibenturkan ke penyangga jalan (di kiri tempat tidurnya) oleh tersangka Kenji Hoshino (58). (Koresponden Tribunnews.com/Richard Susilo)

Menurut ringkasan komite pelaksana "Soudanmura" sebuah tempat konsultasi Jepang, 65 persen dari 344 orang yang berkunjung untuk konsultasi selama liburan akhir tahun dan Tahun Baru tidak memiliki atau tidak dapat menggunakan ponsel, yang jumlahnya mendekati dua pertiga.

"Separuh dari responden mengatakan umumnya mereka tidak memiliki ponsel atau tidak memiliki rumah sehingga tinggal di tempat umum seperti di kolong jembatan di taman umum dan sebagainya. Kalau masih ada uang sedikit di warnet yang murah dan buka 24 jam," jelasnya.

Halaman
12
Ikuti kami di
Editor: Dewi Agustina
  Loading comments...
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas