Mengenal Mochinage, Tradisi Memulai Pembangunan Rumah di Jepang
Mochinage merupakan sebuah upacara ritual Shinto melempar mochi atau benda berharga lain, yang dilakukan untuk membayar "bencana".
Editor:
Dewi Agustina
Laporan Koresponden Tribunnews.com, Richard Susilo dari Jepang
TRIBUNNEWS.COM, TOKYO - Di Jepang ada budaya Shinto (aliran kepercayaan, bukan agama) yang memulai pembangunan rumah dengan Mochinage.
Sanpeisennogi atau mochisennogi, atau sering disebut Mochinage adalah mochi yang dilempar dari atas kerangka rumah saat memulai pembangunan rumah kepada masyarakat sekitar yang berkumpul.
Mochi adalah kue Jepang yang terbuat dari beras ketan, ditumbuk sehingga lembut dan lengket, kemudian dibentuk menjadi bulat.
Di Jepang, kue ini sering dibuat dan dimakan pada saat perayaan tradisional mochitsuki atau perayaan tahun baru Jepang.
Kue ini dijual dan dapat diperoleh dengan mudah di toko-toko kue.
Mochinage atau sanpeisennogi atau mochisennogi, merupakan sebuah upacara ritual Shinto melempar mochi atau benda berharga lain, yang dilakukan untuk membayar "bencana".
Tujuannya untuk membagi kebahagiaan kepada sekitar, membuat keakraban dengan sekitar, dimulai awalnya oleh tukang kayu yang dilakukan pemilik rumah.
Tradisi ini dimulai saat zaman Edo dan menyebar ke masyarakat umum hingga kini serta banyak dilakukan serta terkenal di Wakayama dan Yamaguchi Jepang.
Mochi sering dibungkus dengan kertas atau bungkus plastik.
Selain itu, kue beras merah dan putih umumnya digunakan.
Tergantung pada wilayahnya, ada juga fitur unik seperti menaburkan uang receh seperti koin 5 yen dan koin 50 yen melalui tali merah.
Terlepas dari upacara topping-out, juga banyak dilakukan di seluruh Jepang untuk menabur kue beras di akhir perayaan atau acara di kuil dan festival lokal.
Selain itu, pada tanggal 8 Januari 2018, sebagai "Restorasi Yamaguchi Mochi Maki Terbesar di Dunia" (disponsori oleh Departemen Pemuda Kamar Dagang dan Industri Yamaguchi), 40.000 kue beras, yang terbesar yang pernah ada di Kota Yamaguchi, dibuat dan ditaburkan.
Di Prefektur Kumamoto dan Oita, disebut "Shitogi" dan di Prefektur Miyazaki, disebut "Sengumaki".