Tribun

POPULER Internasional: Wisuda Massal di Wuhan Tanpa Prokes | Nasib 38 Istri setelah Suami Meninggal

Kumpulan berita populer Internasional, di antaranya Wuhan yang gelar wisuda massal dengan tidak lagi menerapkan protokol kesehatan

Penulis: Tiara Shelavie
Editor: Sri Juliati
POPULER Internasional: Wisuda Massal di Wuhan Tanpa Prokes | Nasib 38 Istri setelah Suami Meninggal
Kolase Tribunnews
Kumpulan berita populer Internasional, di antaranya Wuhan yang gelar wisuda massal dengan tidak lagi menerapkan protokol kesehatan 

Mereka pun melarikan diri dengan membawa jaring yang dievakuasi ke tumbuh-tumbuhan.

"Ini juga menunjukkan secara harfiah bahwa puluhan ribu, kalau tidak ya jutaan laba-laba, ada di permukaan tanah," ujar Dr Walker.

BACA SELENGKAPNYA >>>

3. Dokter Top Jepang Berterima Kasih Kepada Indonesia Mengenai Obat Generik

Profesor Masaki Muto (72), Rumah Sakit Kinugasa Area Yokosuka Dia adalah direktur Pusat Promosi Perawatan Komprehensif, dan Anggota Spesialis Kelompok Kerja Perawatan Medis Kantor Kabinet PM Jepang sejak 2019.
Profesor Masaki Muto (72), Rumah Sakit Kinugasa Area Yokosuka Dia adalah direktur Pusat Promosi Perawatan Komprehensif, dan Anggota Spesialis Kelompok Kerja Perawatan Medis Kantor Kabinet PM Jepang sejak 2019. (Foto Richard Susilo)

Seorang dokter top di Jepang, Profesor Masaki Muto (72), menyatakan rasa terima kasihnya kepada Indonesia karena bisa banyak belajar mengenai obat generik di Indonesia di masa lampau.

"Saya sangat berterima kasih kepada Indonesia karena banyak belajar mengenai obat generik, papar  Profesor Masaki Muto (72), Rumah Sakit Kinugasa Area Yokosuka Dia adalah direktur Pusat Promosi Perawatan Komprehensif, dan Anggota Spesialis Kelompok Kerja Perawatan Medis Kantor Kabinet PM Jepang sejak 2019., khusus kepada Tribunnews.com sore ini (16/6/2021).

Profesor Muto mengaku telah tiga kali ke Jakarta sejak 1998 dalam program JICA (Japan International Cooperation Agency) dan melihat sendiri gudang stok kementerian kesehatan Indonesia yang ternyata di sana banyak obat generik.

"Kaget juga saya saat itu," tekannya lagi.

Mengapa? Karena di Jepang sedikit sekali penggunaan obat generik saat itu.

"Selain itu juga citra yang buruk, obat murah kualitas juga jelek. Citra buruk itu di Jepang yang membuat orang enggan memakai obat generik. Tetapi kini setelah saya kampanyekan obat generik, setelah terbuka mata saya melihat Indonesia, akhirnya tingkat penggunaan obat generik di Jepang  saat ini mencapai sekitar 80%."

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas