Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Presiden AS Joe Biden Bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Jumat Nanti, Ini Tanggapan Taliban

Presiden AS Joe Biden dan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani akan membahas penarikan pasukan dan bantuan AS di Gedung Putih Jumat mendatang

Presiden AS Joe Biden Bertemu Presiden Afghanistan Ashraf Ghani Jumat Nanti, Ini Tanggapan Taliban
PRESS OFFICE OF PRESIDENT OF AFGHANISTAN / AFP
Foto resmi yang diambil pada 7 Agustus 2020 dan dirilis oleh Kantor Pers Presiden Afghanistan, memperlihatkan Presiden Afghanistan Ashraf Ghani memberi isyarat jari telunjuk saat ia berbicara pada hari pertama pertemuan akbar majelis Loya Jirga di Aula Loya Jirga di Kabul. Ribuan warga Afghanistan memulai pertemuan selama tiga hari di Kabul pada 7 Agustus untuk memutuskan apakah akan membebaskan sekitar 400 tahanan Taliban. 

Sejak AS mengumumkan rencana pada bulan April untuk menarik semua pasukannya, setidaknya 30 distrik telah direbut oleh Taliban.

Menanggapi rencana pertemuan ini, Taliban mengatakan kunjungan itu akan "tidak berguna".

"Mereka (Ghani dan Abdullah) akan berbicara dengan pejabat AS untuk mempertahankan kekuasaan dan kepentingan pribadi mereka," kata juru bicara Taliban Zabihullah Mujahid. “Itu tidak akan menguntungkan Afghanistan.”

Tidak ada reaksi langsung dari kantor Ghani tetapi seorang pejabat senior Afghanistan mengatakan Presiden Afghanistan akan mencari jaminan dari AS atas dukungannya yang berkelanjutan untuk pasukan keamanan Afghanistan setelah penarikan.

Kunjungan itu juga akan berlangsung saat lambatnya kemajuan dalam pembicaraan antara Taliban dan perwakilan pemerintah Afghanistan di Qatar.

Baca juga: Pasukan Afghanistan-Taliban Saling Serang Jelang Batas Waktu Penarikan Pasukan AS yang Semakin Dekat

Para pejabat telah menyuarakan keprihatinan atas negosiasi yang macet dan mengatakan Taliban belum mengajukan proposal perdamaian tertulis yang dapat digunakan sebagai titik awal untuk pembicaraan substantif.

Pada bulan Mei, analis intelijen AS merilis sebuah penilaian bahwa Taliban “akan banyak mundur” dari kemajuan yang dibuat dalam hak-hak perempuan Afghanistan jika kelompok itu mendapatkan kembali kekuatan nasional.

Taliban mengatakan pada hari Minggu bahwa pihaknya akan tetap berkomitmen untuk pembicaraan damai tetapi bersikeras bahwa "sistem Islam yang asli" di Afghanistan adalah satu-satunya cara untuk mengakhiri perang dan memastikan hak - termasuk bagi perempuan.

“Sistem Islam yang asli adalah cara terbaik untuk solusi semua masalah Afghanistan,” kata salah satu pendiri dan wakil pemimpin Taliban Mullah Abdul Ghani Baradar. (Tribunnews.com/TST/Aljazeera/Hasanah Samhudi)

© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas