Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version
BBC

Vaksin Sinovac: Apakah keberhasilan vaksin asal China telah memudar di Asia?

Keputusan Thailand dan Indonesia mengubah kebijakannya untuk mendapatkan vaksin dari luar China telah menimbulkan pertanyaan tentang kemanjuran

Tidak diketahui berapa banyak dari mereka yang divaksinasi lengkap.

Tetapi virus itu diperkirakan berhasil dikendalikan di China, yang melaporkan tingkat infeksi harian yang rendah dan sudah bergerak cepat untuk membasmi wabah di tingkat lokal.

Bagaimana hal ini mempengaruhi diplomasi vaksin China?

Sebagai kawasan yang paling banyak menerima suntikan vaksin China, Asia menjadi kunci utama dalam strategi diplomasi vaksin buatan China.

Lebih dari 30 negara Asia telah membeli atau menerima vaksin sumbangan. Indonesia merupakan salah satu pembeli terbesar vaksin Sinovac di dunia yang telah memesan 125 juta dosis.

Keinginan China untuk menjual atau menyumbangkan vaksin merupakan "upaya untuk mengubah narasi dari fakta bahwa infeksi pertama kali terdeteksi di Wuhan" dan "untuk menunjukkan bahwa itu adalah sebuah kekuatan sainstifik", kata ahli tentang China, Ian Chong, dari Universitas Nasional Singapura.

Dengan negara-negara kaya yang memonopoli banyak pesanan vaksin lainnya di atahp awal, banyak negara di Asia - terutama yang miskin - menyambut kehadiran vaksin dari Cina.

"Pemikiran standar adalah bahwa 'beberapa perlindungan lebih baik ketimbang tidak ada perlindungan', meskipun pada saat itu data kemanjurannya tidak luar biasa," kata Dr Chong.

Thailand, misalnya, awalnya mengandalkan perusahaan lokal milik raja untuk memproduksi sebagian besar vaksinnya, tetapi jangka waktu pengiriman yang lambat memaksa pemerintah untuk mencari sumber lain setelah wabah baru Covid tahun ini.

Selain vaksin AstraZeneca yang diproduksi secara lokal, pada akhirnya sebagian besar mengandalkan suntikan Sinovac untuk saat ini, karena perusahaan China adalah salah satu yang pertama mengirimkannya.

A Thai health volunteer stands in front of a campaign banner for Chinese made Sinopharm vaccine during a mass vaccination drive for disabled and disadvantaged people in Bangkok, Thailand, 25 June 2021.
EPA
Thailand juga telah menerima beberapa dosis Sinopharm.

Keputusan Thailand dan Indonesia untuk beralih ke vaksin lain "berpotensi merusak citra keberhasilan, memecahkan gelembung efektivitas vaksin China, dan pada dasarnya mempertanyakan keahlian teknis China," kata Dr Chong.

Pemerintah China sejauh ini belum berkomentar, tetapi sebelumnya mereka berkeras bahwa vaksinnya efektif.

Bagaimana reaksi publik?

Baik pemerintah Thailand maupun Indonesia menghadapi kritikan yang meningkat mengenai upaya vaksinasi yang berjalan lambat dan situasi Covid yang memburuk.

Di Thailand, kemarahan semakin dipicu oleh bocoran dokumen kementerian kesehatan yang mengutip seorang pejabat yang menentang pemberian suntikan penguat Pfizer kepada pekerja medis, karena itu akan menjadi "pengakuan bahwa Sinovac tidak dapat memberikan perlindungan".

"Ada banyak kemarahan di kalangan masyarakat Thailand, mereka mengatakan 'mengapa Anda tidak peduli dengan petugas kesehatan', 'ini seharusnya tidak menjadi faktor'.

"Banyak orang memiliki keprihatinan mendalam tentang komunikasi dan ketergantungan pemerintah pada Sinovac," kata Dr Arm Tungnirun, ketua Pusat Studi China di Universitas Chulalongkorn.

"Saat ini semakin banyak orang yang menolak Sinovac, yang percaya itu tidak efektif. Ada ketidakpercayaan besar pada pemerintah Thailand, dan masalah vaksin menjadi sangat dipolitisasi."

Ada kekhawatiran bahwa laporan terbaru tentang ledakan kasus-kasus infeksi akan memicu skeptisisme menyeluruh terkait vaksin.

Di Indonesia, para influencer di media sosial menggunakan agama dan teori konspirasi dalam menyebarkan pesan anti-vaksin yang dicampur dengan sentimen anti-Cina.

Para ahli mendesak agar ada upaya pengendalian infeksi yang lebih ketat dan upaya yang lebih besar dalam memerangi informasi salah secara online.

Menurut Prof Cowling: "Sangat bagus bahwa kami menggunakan [vaksin Cina] tetapi kami tidak dapat berharap terlalu banyak dari mereka.

"Kita harus menyadari bahwa akan ada ledakan kasus infeksi dan siap menghadapinya, karena dapat merusak kepercayaan terhadap vaksin."

Sumber: BBC Indonesia
BBC
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas