Tribun
TribunJualbeli
Tribun Network
About Us
Redaksi
Info Iklan
Contact Us
Help
Terms of Use
Privacy Policy
Pedoman Media Siber
Desktop Version

Virus Corona

Studi di Inggris: Warga yang Divaksinasi Penuh Berkurang 50-60 Persen Risiko Terinfeksi Covid-19

Hasil studi di Inggris menunjukkan warga yang sudah divaksin penuh memiliki risiko lebih rendah 50-60 persen terinfeksi Covid-19 varian Delta

Studi di Inggris: Warga yang Divaksinasi Penuh Berkurang 50-60 Persen Risiko Terinfeksi Covid-19
AFP
Kerabat berpelukan saat mereka tiba dari Amerika Serikat di Terminal 5 Heathrow di London barat pada Senin (2/8/2021), saat pembatasan karantina dilonggarkan. 

Ini kemungkinan bertepatan dengan penyebaran Delta di antara orang-orang muda yang mungkin tidak sepenuhnya divaksinasi.

Sebelumnya PHE mengatakan bahwa varian Delta meningkatkan risiko pasien harus dirawat inap, meskipun vaksin melindunginya agar penyakit tidak parah.

Secara keseluruhan, kata para penelit, prevalensi pada orang yang tidak divaksinasi adalah 1,21 persen, tiga kali lebih tinggi dari prevalensi 0,4 persen pada orang yang divaksinasi penuh.

Para peneliti mempresentasikan temuan terbaru dari survei prevalensi Imperial's React-1, yang menunjukkan ada peningkatan infeksi empat kali lipat dalam sebulan mencapai 1 dari 160 orang di Inggris.

Survei terbaru, yang dilakukan antara 24 Juni dan 12 Juli, mencakup waktu menjelang puncak infeksi yang dilaporkan setiap hari pada 17 Juli, dan menemukan bahwa kenaikan itu dipicu oleh penyebaran pada orang yang lebih muda.

Baca juga: Pakar Inggris: Alat Oksimeter Kurang Akurat pada Orang Berkulit Lebih Gelap

Baca juga: Sejumlah Ilmuwan Prediksi Setiap Tahun Akan Ada Puluhan Ribu Kematian Akibat Covid-19 di Inggris

Peneliti Imperial, Steven Riley mengatakan bahwa anak berusia lima hingga 24 tahun menyumbang 50 persen dari semua infeksi, meskipun mereka hanya 25 persen dari populasi.

Sekolah-sekolah sekarang telah ditutup untuk liburan musim panas, dan kasus-kasus telah turun meskipun aturan pembatasan virus corona berakhir pada 19 Juli.

"Kami telah menunjukkan bahwa sebelum penurunan baru-baru ini, orang-orang muda mendorong terjadinya infeksi," kata Prof Riley kepada wartawan.

"Data ini mendukung adanya ketidakpastian apa yang mungkin terjadi pada bulan September,  di saat sekolah kembali dibuka dan warga boleh berkumpul di dalam ruangan, karena pola infeksi yang kami lihat mendorong pertumbuhan,” ujarnya. (Tribunnews.com/TST/Hasanah Samhudi)

Editor: hasanah samhudi
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas