Tunggu 3.0 detik untuk membaca artikel
Aplikasi Tribun
Tajamkan Wawasanmu,
Suarakan
Opinimu
KLIK DI SINI
Tribun
LIVE ●

Profesor Swedia: Covid-19 Akan Tetap Ada, Capai Herd Immunity Berbasis Vaksin Tidak Mungkin

Profesor Virologi dari universitas terkemuka Swedia telah menyimpulkan bahwa virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit virus corona (Covid-19) tidak

Tayang:
Baca & Ambil Poin
Penulis: Fitri Wulandari
Editor: Johnson Simanjuntak
zoom-in Profesor Swedia: Covid-19 Akan Tetap Ada, Capai Herd Immunity Berbasis Vaksin Tidak Mungkin
The New England Journal of Medicine via IFL Science
Gambar ini menunjukkan virus corona SARS-CoV-2 menginfeksi sel manusia. Gambar ditangkap dengan menggunakan mikroskop elektron. 

TRIBUNNEWS.COM, STOCKHOLM - Profesor Virologi dari universitas terkemuka Swedia telah menyimpulkan bahwa virus SARS-CoV-2, yang menyebabkan penyakit virus corona (Covid-19) tidak dapat diberantas dan akan tetap menjadi virus musiman yang berulang.

Keberadaan virus ini disebut tidak dapat dimusnahkan, sehingga mendesak semua orang untuk 'belajar hidup berdampingan dengannya'.

Menariknya, sisi baiknya adalah meskipun kekebalan tubuh yang diperoleh dari vaksinasi hanya bersifat sementara, namun virus tersebut kemungkinan seiring waktu akan kehilangan sebagian potensinya pula.

Dikutip dari laman Sputnik News, Kamis (9/9/2021), tiga Profesor Virologi Swedia yakni Lennart Svensson dari Universitas Linköping, Åke Lundkvist dari Universitas Uppsala dan Anders Widell dari Universitas Lund, telah menyimpulkan bahwa tingkat vaksinasi yang sangat tinggi mencapai lebih dari 90 persen pun tidak dapat sepenuhnya menghentikan penyebaran infeksi Covid-19.

Seperti yang terlihat pada banyak contoh kasus di seluruh dunia.

"Semuanya menunjukkan bahwa SARS-CoV-2 akan tetap ada, sebagai virus musiman yang berulang. Kekebalan komunal (herd immunity) akan sangat sulit atau bahkan tidak mungkin bisa dicapai," tulis para Profesor, dalam sebuah opini di surat kabar Dagens Nyheter.

Baca juga: Epidemiolog Swiss: Virus Mirip SARS CoV-2 Mungkin Sudah Ada Sejak 2013

Menurut mereka, empat virus corona yang menginfeksi manusia dan kembali selama musim dingin, menunjukkan gejala flu ringan dan ini sebenarnya telah diketahui umat manusia sejak lama.

Rekomendasi Untuk Anda

Terlebih lagi, sejak 2003, umat manusia telah dipengaruhi oleh dua virus corona yang benar-benar baru dan dapat menyebabkan infeksi yang sangat serius, yakni SARS-CoV-1 dengan angka kematian mencapai sekitar 10 persen serta MERS-CoV yang menyebabkan sekitar 34 persen angka kematian.

Namun, virus corona baru SARS-CoV-2 ini tidak akan bisa diberantas, baik melalui kekebalan alami maupun kekebalan komunal yang diperoleh melalui vaksinasi.

"Karena hanya virus yang menjadikan manusia sebagai inang unik mereka yang dapat sepenuhnya dihilangkan," jelas para profesor.

Sebaliknya, agar virus hewan dapat melintasi batas dan melompati spesies, diperlukan adanya mutasi, dan ini kerap mengakibatkan penyebaran yang cepat dengan mengorbankan patogenisitas.

SARS-CoV-2 yang baru, sama seperti empat jenis virus corona musiman lainnya, karena telah menunjukkan penyebaran global.

"Virus corona baru ini mungkin secara perlahan akan mengurangi angka kematian dari waktu ke waktu. Jadi, semuanya akan menunjukkan SARS-CoV-2 menjadi endemik, itulah sebabnya kita harus belajar hidup berdampingan dengan virus ini," papar para profesor.

Kendati demikian, kata mereka, sejarah menunjukkan bahwa butuh waktu bertahun-tahun sebelum akhirnya SARS-CoV-2 kehilangan potensinya dan menjadi virus corona musiman.

Para profesor ini pun mengutip OC43 (HCoV-OC43), yang mungkin diadaptasi dari virus corona dari hewan ternak ke manusia pada sekitar tahun 1890-an dan kali pertama terdeteksi tahun 1967 pada kelompok anak-anak dengan menunjukkan gejala flu.

Sementara itu, virus baru ini akan terus bermutasi dan memunculkan varian lainnya.

"Varian virus individu memiliki peningkatan kemampuan untuk menyebar, dan sebagian besar tidak diturunkan, karena fakta bahwa mutasi baru tidak cukup bermanfaat bagi virus," tegas para profesor.

Perli diketahui, vaksin Covid-19 yang diberikan saat ini, memang akan memberikan perlindungan terhadap infeksi berat dan ringan yang disebabkan oleh varian yang saat ini beredar.

Namun para profesor ini menekankan bahwa vaksin tidak mungkin dapat memberikan perlindungan yang lebih tahan lama dalam melawan infeksi.

"Yang terpenting untuk diketahui adalah kekebalan terhadap virus pernafasan, termasuk virus corona ini, baik yang disebabkan oleh infeksi maupun vaksinasi, tampaknya tidak akan tahan lama," pungkas para profesor.

Dapatkan Berita Pilihan
di WhatsApp Anda
Klik Di Sini!
Baca WhatsApp Tribunnews
Tribunnews
Ikuti kami di
Berita Populer
Atas