Tribun
Deutsche Welle

Kekerasan Sektarian di Ibu Kota Lebanon Hembuskan Isu Perang Saudara

Penyelidikan terhadap ledakan di pelabuhan Beirut meluapkan konflik antara faksi politik di Lebanon. Insiden tembakan senjata di Beirut…

Hujan peluru yang melumpuhkan ibu kota Lebanon, Beirut, Kamis (14/10), menewaskan setidaknya tujuh orang dan melukai belasan lain. Insiden tersebut berawal dari sebuah aksi demonstrasi yang digalang Gerakan Amal dan Hezbollah di depan Gedung Kementerian Kehakiman di timur Beirut.

Mereka sedianya menuntut pemecatan terhadap salah seorang hakim yang memimpin penyelidikan ledakan di pelabuhan Beirut.

Namun apa yang terjadi kemudian menempatkan warga Beirut dalam trauma perang saudara pada 1975-1980. Awalnya penduduk di kawasan Kristen itu melempari demonstran dengan batu, klaim seorang saksi mata. Seorang penembak jitu lalu membuka tembakan ke arah demonstran, yang disambut dengan hujan peluru oleh ratusan gerilayawan Amal dan Hezbollah.

Hakim yang diperkarakan, Tarek Bitar, pernah berurusan dengan Gerakan Amal saat memerintahkan penangkapan terhadap bekas menteri keuangan Lebanon yang merupakan kader partai. Bitar juga mendakwa tiga pejabat pemerintahan lain atas tuduhan kesengajaan dalam insiden ledakan di pelabuhan.

Sejak beberapa hari terakhir, petinggi Amal dan Hezbollah, termasuk Hassan Nasrullah, menyerang Bitar dengan menuduhnya hanya mendakwa musuh politik. Padahal selama penyelidikan 14 bulan terakhir, tidak seorang pun petinggi Hezbollah yang diseret ke pengadilan.

Adu kuat faksi politik

Penyelidikan seputar ledakan di Pelabuhan Beirut perlahan menghidupkan kembali konflik lama antara faksi bersenjata di Lebanon. Kelompok yang dulu baku hantam selama perang saudara, kini berbagi wilayah kekuasaan di lembaga-lembaga negara. Penyeldidikan diyakini akan menyentuh ranah kepartaian.

Dalam hal ini, Gerakan Amal yang dipimpin Ketua Parlemen, Nabih Berri, termasuk yang paling gencar menolak Bitar. Pada Jumat silam, ratusan gerilayawan Amal dan Hezbollah terlihat membawa senapan serbu dan pelontar granat ke benteng Kristen, Ain al-Remmaneh, di Beirut.

Gerakan Amal yang beraliran Syiah dan dipimpin ketua parlemen Nabih Berri sejak tahun 1980 itu adalah sebuah partai politik, yang juga memiliki milisi. Mereka berperan penting dalam perang saudara. Di antara mereka yang tewas dalam insiden Kamis(14/10), tiga di antaranya anggota Amal.

Kelompok Syiah memiliki perwakilan signifikan di parlemen, sementara milisinya kuat karena didukung oleh Iran, yang memanfaatmya untuk perang proksi di kawasan Timur Tengah.

Halaman
12
Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas