Tribun
Deutsche Welle

Membangun Agensi Model di Mesir: Dengan Fashion Menjadi Agen Perubahan

Setelah sukses di dunia model internasional, Iman Eldeeb kembali ke Mesir dan membuka agensinya sendiri. Dia mulai mendobrak stereotip…

Membangun Agensi Model di Mesir: Dengan Fashion Menjadi Agen Perubahan

Iman Eldeeb menempa karir internasional di ibu kota mode Eropa Milan sekitar tahun 2011. Waktu itu banyak fotografer mengatakan kepadanya bahwa dia adalah "model Mesir pertama yang pernah mereka lihat". Tujuh tahun kemudian, pada tahun 2018 dia kembali ke Mesir dan membuka agensinya sendiri.

Di negara berpenduduk terpadat di dunia Arab itu, modeling lama didominasi oleh "gadis-gadis dari Eropa Timur, dengan kulit yang cerah," kata Iman Eldeeb. Perempuan berusia 28 tahun itu mengatakan, standar "usang" itu telah mempersulit model-model Mesir dan Arab untuk masuk ke industri mode.

"Kecantikan tidak bisa dibatasi oleh penampilan dan bentuk wajah dan sebagainya. Saya merasa ini adalah kesalahpahaman tentang kecantikan," katanya kepada kantor berita AFP. "Warna rambut, warna mata, semua hal ini adalah bagian dari standar kecantikan yang sudah terlalu lama, dan ini adalah sesuatu yang kita hindari sebanyak yang kita bisa."

Menetapkan standar baru di Mesir

Kembali ke Mesir, dia dan saudara perempuannya Yousra mendirikan UNN Model Management -- nama yang berarti "kelahiran kembali" dalam bahasa minoritas kulit hitam Nubia. UNN menawarkan platform baru untuk bakat-bakat pemula di Mesir, yang kekurangan dukungan dalam industri yang sangat kompetitif.

"Industri fashion masih berkembang di dunia Arab," kata Iman Eldeeb. Saat ini, UNN mengawasi sekitar 35 kontrak dengan merek ternama, termasuk Louis Vuitton, Adidas dan Levi's, menjadikannya pemimpin di kancah fashion Mesir yang baru lahir.

Mohsen Othman, seorang fotografer lepas yang juga dikenal dengan nama Lemosen, memuji UNN karena pendekatannya yang "berani". Dalam industri mode di Mesir, "kami memiliki orang-orang kreatif tetapi kami kekurangan sarana, dan pendidikan masih tetap kuno," katanya.

Mendekonstruksi rasisme di dunia mode

Adhar Makuac Abiem, seorang model dari Sudan Selatan, lama mengalami ejekan dan hinaan rasial di jalan-jalan yang ramai di Kairo. Ketika dia menetap di Mesir sebagai pengungsi pada tahun 2014, dia tidak pernah membayangkan dia akan dipekerjakan oleh agen lokal.

Seringkali dia diberitahu bahwa dia "terlalu hitam" atau "terlalu jelek" untuk mendapatkan pekerjaan, katanya. Namun sejak 2019, perempuan berusia 21 tahun itu berhasil membangun karir sebagai model setelah bekerja sama dengan UNN.

Mesir mirip dengan "Barat di mana prasangka tetap ada tentang orang-orang berkulit gelap", kata Marie Grace Brown, seorang peneliti Universitas Kansas yang menulis buku tentang mode wanita di Sudan. Tapi itu tidak menghentikan Adhar Makuac Abiem untuk mencoba "menjadi panutan positif" bagi perempuan kulit hitam muda di industri ini.

Bagi Sabah Khodir, seorang aktivis Mesir melawan kekerasan berbasis gender, UNN adalah kekuatan untuk "menghancurkan standar kecantikan (barat)" dan "mendekonstruksi rasisme yang terinternalisasi". "Ini akan memanusiakan Anda di mata dunia," katanya tentang situasi perempuan yang kurang terwakili.

Selain memerangi diskriminasi dalam industri yang sangat predator, mendapatkan persetujuan orang tua adalah tantangan lain di negara Islam yang konservatif. Menurut Eldeeb, tiga perempat orang tua khawatir gambar anak perempuan model mereka dapat "disalahgunakan" secara online. Ada juga khawatir tentang pakaian yang terlalu terbuka, serta "jam bekerja yang tidak pantas" untuk perempuan muda.

hp/ts (afp)

Sumber: Deutsche Welle
Ikuti kami di
© 2021 TRIBUNnews.com,a subsidiary of KG Media. All Right Reserved
Atas